Digempur Houthi, Saudi Tetap Pompa 5,8 Juta Barel Minyak per Hari melalui Pipa Timur-Barat
RIYADH, iNews.id - Arab Saudi tetap memompa 5,8 juta barel minyak per hari melalui Pipa Timur-Barat meski menghadapi serangan kelompok Houthi Yaman dan ancaman terhadap infrastruktur energinya. Kerajaan menegaskan pasokan energi ke pasar global akan tetap berjalan tanpa putus dalam kondisi apa pun.
Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan, Pipa Timur-Barat menjadi jalur alternatif penting untuk menjaga kelancaran distribusi minyak ketika konflik di Timur Tengah mengancam infrastruktur dan jalur pengiriman energi.
Abdulaziz mengungkapkan negaranya memompa 5,8 juta barel minyak per hari melalui pipa tersebut. Pengumuman itu menjadi pernyataan resmi pertama pemerintah Saudi mengenai tingkat operasional pipa setelah sempat ditutup sementara menyusul serangan beberapa pekan sebelumnya.
Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, Abdulaziz menegaskan Saudi tidak akan membiarkan berbagai ancaman menghalangi komitmennya sebagai pemasok energi global.
"(Arab Saudi) seperti burung phoenix. Kami bangkit dari abu setiap saat, berulang kali, dan tidak ada yang dapat mematahkan tekad kami," ujarnya.
Abdulaziz menambahkan, pemerintah Kerajaan telah menunjukkan kemampuannya menjaga kelancaran pasokan energi, melanjutkan investasi, dan mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan.
"Semua orang sekarang mengakui bahwa Kerajaan mampu berdiri teguh dan menghadapi tantangan. Tidak seorang pun bisa melemahkan tekad atau menghalangi kami untuk mencapai kemajuan dan memenuhi komitmen, apa pun keadaannya," katanya.
Pipa Timur-Barat Jadi Jalur Alternatif Ekspor Minyak
Pipa Timur-Barat merupakan infrastruktur strategis yang memungkinkan Arab Saudi mengalirkan minyak menuju Yanbu, di pesisir Laut Merah, untuk selanjutnya dipasok ke pasar global.
Jalur ini penting bagi ketahanan energi Saudi karena menyediakan alternatif pengiriman minyak di tengah ancaman terhadap infrastruktur dan jalur distribusi di kawasan Teluk. Dengan memanfaatkan jalur menuju Laut Merah, kerajaan memiliki pilihan untuk menjaga arus pasokan ketika jalur lain menghadapi gangguan.
Pengoperasian pipa dengan volume 5,8 juta barel per hari juga menjadi sorotan setelah infrastruktur tersebut sempat ditutup sementara akibat serangan beberapa pekan sebelumnya.
Namun, pengumuman mengenai volume minyak yang dipompa itu tidak dengan sendirinya berarti seluruh gangguan terhadap sektor energi Saudi telah berakhir. Ancaman keamanan dan perkembangan konflik kawasan tetap menjadi faktor yang dapat memengaruhi operasional infrastruktur energi.
Saudi Tegaskan Pasokan Energi Tak Akan Terputus
Abdulaziz menegaskan Arab Saudi akan tetap memenuhi komitmennya kepada konsumen energi dunia, apa pun situasi yang dihadapi Kerajaan.
Dia bahkan menyebut Riyadh sebagai salah satu pusat penting bagi keamanan energi global.
"Oleh karena itu, saya senang berbagi kepada Anda bahwa negara ini, dan Kota Riyadh ini, adalah ibu kota keamanan energi," ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan upaya Saudi mempertahankan perannya sebagai pemasok minyak dunia di tengah konflik yang melibatkan sejumlah negara dan kelompok di Timur Tengah.
Dengan mengandalkan infrastruktur alternatif, investasi, dan kesiapan menghadapi berbagai keadaan, kerajaan berupaya menjaga kelancaran pasokan minyak meski ancaman terhadap fasilitas energi belum mereda.
Editor: Anton Suhartono