Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Netanyahu Dilaporkan Tangkap dan Interogasi Politisi Oposisi setelah Kalah Pemilu
Advertisement . Scroll to see content

Dokter hingga Ilmuwan Ramai-Ramai Tinggalkan Israel, Mantan Jenderal: Ini Perang Saudara Senyap

Jumat, 06 November 2026 - 07:18:00 WIB
Dokter hingga Ilmuwan Ramai-Ramai Tinggalkan Israel, Mantan Jenderal: Ini Perang Saudara Senyap
Gelombang eksodus dokter, ilmuwan, insinyur, dan tenaga profesional lainnya menjadi ancaman serius bagi Israel (Foto: AP)
Advertisement . Scroll to see content

TEL AVIV, iNews.id - Gelombang eksodus dokter, ilmuwan, insinyur, dan tenaga profesional lainnya menjadi ancaman serius bagi Israel. Mantan jenderal militer Israel, Mayor Jenderal (Purn) Itzhak Brik, menyebut fenomena tersebut sebagai bagian dari "perang saudara senyap" yang tengah menggerogoti negaranya dari dalam.

Brik memperingatkan Israel bukan sekadar menghadapi polarisasi politik. Menurut dia, perpecahan masyarakat dan hengkangnya tenaga-tenaga ahli justru mengancam fondasi negara yang dibangun selama puluhan tahun.

Dalam artikel opini di surat kabar Maariv, Brik menyebut dokter, ilmuwan, pengusaha teknologi, serta kalangan profesional terampil memilih meninggalkan Israel. Eksodus tersebut dinilai menguras sumber daya manusia yang menjadi salah satu kekuatan utama negara itu.

Peringatan Brik bukan tanpa latar belakang. Penelitian Universitas Tel Aviv yang dipublikasikan pada September 2026 menemukan sekitar 1.370 dokter meninggalkan Israel sepanjang 2023-2025 untuk tinggal di luar negeri setidaknya selama 1 tahun.

Jumlah tersebut meningkat 94 persen dibandingkan periode tiga tahun serupa pada 2013-2015. Pada 2023, sebanyak 416 dokter pergi, disusul 530 dokter pada 2024 dan sekitar 419 dokter pada 2025.

Bahkan setelah memperhitungkan dokter yang kembali, Israel kehilangan bersih 509 dokter sepanjang 2023 dan 2024. Rata-rata kehilangan tersebut sekitar 255 dokter per tahun, hampir lima kali lipat dibandingkan rata-rata tahunan pada dekade sebelumnya.

Eksodus itu juga menyentuh sejumlah spesialis penting. Penelitian tersebut mencatat 116 dokter spesialis mata, kulit, serta telinga, hidung, dan tenggorokan meninggalkan Israel. Jumlah itu setara sekitar 6,2 persen dokter pada bidang-bidang tersebut.

Sementara itu, sekitar 188 dokter bedah atau 6 persen dari total dokter bedah juga tercatat pergi. Para peneliti memperingatkan tren ini berisiko memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan dan pendidikan dokter generasi berikutnya.

Eksodus Tenaga Ahli Mengancam Ekonomi

Fenomena hengkangnya tenaga profesional tidak hanya terjadi di sektor kesehatan. Penelitian Otoritas Pajak Israel yang diberitakan The Times of Israel pada Agustus 2026 menemukan jumlah warga berpenghasilan tinggi yang bekerja di sektor teknologi dan kesehatan dan meninggalkan negara itu hampir dua kali lipat dalam lima tahun.

Eksodus tersebut didominasi dokter, insinyur, serta pekerja berpendidikan tinggi dengan penghasilan besar. Jika terus berlangsung, tren itu diperkirakan dapat mengurangi penerimaan pajak hingga 3,5 miliar dolar AS per tahun.

Sektor teknologi juga menghadapi risiko. Otoritas Inovasi Israel memperingatkan aktivitas penelitian dan pengembangan serta pengelolaan perusahaan rintisan semakin banyak berpindah ke luar negeri. Jumlah pekerja teknologi yang berbasis di Israel pun mengalami penurunan.

Brik menilai kehilangan tenaga profesional akan semakin memperlemah kemampuan Israel mempertahankan kekuatan ekonomi dan institusi publiknya.

Perpecahan Politik Memperburuk Keadaan

Brik juga menuding kepemimpinan politik Israel turut memperdalam krisis internal. Dia mengkritik melemahnya supremasi hukum dan lembaga-lembaga publik, termasuk kecenderungan mengutamakan loyalitas politik dibandingkan kompetensi dan integritas dalam penunjukan pejabat.

Menurut Brik, persoalan tersebut memperbesar ketidakpercayaan masyarakat dan memperburuk perpecahan yang sudah terjadi.

Dia bahkan menilai situasi Israel saat ini jauh lebih serius daripada sekadar perselisihan antarkelompok politik. Istilah "perang saudara senyap" digunakan untuk menggambarkan keretakan sosial yang menurutnya berlangsung bersamaan dengan eksodus tenaga ahli.

Brik sebelumnya juga memperingatkan Israel menghadapi ancaman keruntuhan di berbagai bidang, mulai dari militer, ekonomi, hingga institusi negara. Dia menyebut negara itu telah kehilangan legitimasi internasional dan sekutu, sehingga berisiko semakin terisolasi.

Peringatan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai masa depan Israel setelah perang berkepanjangan dan krisis politik domestik. Bagi Brik, keluarnya dokter, ilmuwan, dan tenaga profesional bukan sekadar persoalan migrasi, melainkan ancaman terhadap kemampuan Israel mempertahankan kekuatan dan keberlangsungan negaranya.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut