Drone Tempur Turki Bayraktar Bikin Rusia Ketar-Ketir, Ukraina Berterima Kasih ke Erdogan
KIEV, iNews.id - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy berbicara dengan mitranya dari Turki, Recep Tayyip Erdogan, melalui sambungan telepon untuk menyampaikan terima kasih atas kerja sama militer. Pasukan Ukraina bertempur melawan pemberontak yang didukung Rusia di perbatasan timur Donbass dan menggunakan peralatan tempur dari Turki, yakni drone Bayraktar TB2.
Dalam percakapan yang berlangsung Rabu (17/11/2021) itu Zelenskiy mengatakan kepada Erdogan, hubungan bilateral membuat tentaranya menjadi lebih kuat. Dia menegaskan kerja sama denga Turki akan semakin dalam, termasuk di bidang ekonomi.
"(Kerja sama) Ini sudah memperkuat angkatan bersenjata negara kami. FTA (kerja sama perdagangan bebas) diharapkan juga bisa berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi," kata Zelenskiy, dikutip dari Reuters.
Ukraina membeli drone Bayraktar TB2 buatan Turki dan digunakan dalam perang tersebut. Dalam video yang dirilis militer Ukraina tampak drone Bayraktar menghancurkan kendaraan lapis baja milik pemberontak.
Makin Tegang! Rusia Tempatkan Lagi 90.000 Tentara Dekat Perbatasan Ukraina
Rusia mengungkapkan kemarahan kepada Turki karena membantu musuhnya. Puluhan ribu pasukan Beruang Merah dikerahkan ke perbatasan Donbass yang memicu kekhawatiran negara-negara Barat akan meningkatnya eskalasi.
Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov bulan lalu mengomentari pengerahan drone buatan Turki Bayraktar TB2 oleh Ukraina.
Aktivitas Militer Rusia Dilaporkan Meningkat di Perbatasan, Ini Kata Pemerintah Ukraina
"Kami memiliki hubungan sangat baik dengan Turki, tapi dalam situasi ini, sayangnya kekhawatiran kami bahwa pengiriman senjata jenis ini ke militer Ukraina berpotensi mengganggu stabilitas situasi di jalur kontak," kata Peskov.
Rusia Mulai Ketar-ketir dengan Drone Tempur Bayraktar Buatan Turki di Ukraina
Kelompok separatis yang didukung Rusia memerangi pasukan pemerintah di wilayah Donbass, Ukraina, sejak 2014. Menurut Ukraina, sedikitnya 14.000 orang tewas sejak konflik tersebut.
"Kami melihat, begitu senjata tersebut jatuh ke tangan militer (Ukraina), mereka berpotensi digunakan di wilayah (timur) Ukraina dan ini mengarah pada destabilisasi. Ini tidak berkontribusi pada penyelesaian masalah dalam negeri Ukraina," kata Peskov.
Editor: Anton Suhartono