Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Pesawat Bawa Kepala Staf Angkatan Bersenjata Libya Jatuh di Turki, Semua Penumpang Tewas
Advertisement . Scroll to see content

Ethiopian dan Lion Air Jatuh, Boeing Kurangi Produksi Pesawat 737 Max

Sabtu, 06 April 2019 - 12:58:00 WIB
Ethiopian dan Lion Air Jatuh, Boeing Kurangi Produksi Pesawat 737 Max
Pesawat Boeing 737 MA di Bandara Southern California di Victorville, California, AS. (FOTO: AFP)
Advertisement . Scroll to see content

NEW YORK, iNews.id - Boeing memutuskan memangkas produksi model pesawat model 737 yang merosot penjualannya untuk sementara waktu, akibat insiden jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines dan Lion Air.

Boeing akan menurunkan produksinya dari 52 menjadi 42 pesawat setiap bulannya mulai pertengahan April, demikian pernyataan resmi Boeing.

Keputusan ini diambil sebagai tanggapan atas penghentian pengiriman 737 Max -model pesawat dalam dua kecelakaan di Indonesia dan Ethiopia yang menewaskan seluruh penumpang dan awaknya.

Sebelumnya, Boeing melarang terbang seluruh armada pesawat 737 Max setelah penyelidik menemukan bukti baru di lokasi jatuhnya Ethiopian Airlines.

Pabrikan pesawat tersebut juga merilis pemutakhiran perangkat lunak yang disebut-sebut terkait dengan jatuhnya dua pesawat dalam rentang lima bulan.

Ethiopian Airlines 737 Max jatuh hanya beberapa menit setelah lepas landas dari Addis Ababa pada Maret, menewaskan seluruh penumpang dan awaknya yang berjumlah 157 orang.

Jenis yang sama diterbangkan oleh maskapai Indonesia Lion Air, jatuh ke laut hanya lima bulan sebelum insiden di Ethiopia, tidak lama setelah lepas landas dari Jakarta. Kecelakaan itu merenggut nyawa 189 orang.

Dalam kedua kasus, temuan awal mengungkapkan bahwa pilot berupaya berulang kali mengendalikan, namun pesawat itu menukik tajam beberapa kali sebelum akhirnya jatuh.

Pihak penyidik memusatkan pada sistem MCAS (Manoeuvring Characteristics Augmentation System)- perangkat yang berfungsi mencegah pilot menaikkan hidung pesawat terlalu tinggi dengan cara menukikkan pesawat secara otomatis.

Dalam kasus Lion Air JT610, MACS tidak bekerja dengan baik sehingga setiap kali pilot menaikkan hidung pesawat, MCAS aktif kembali dan menurunkan hidung pesawat.

Chief Executive Officer Boeing, Dennis Muilenburg, kembali mengulangi pernyataannya dalam upaya melakukan serangkaian perubahan pada sistem kendali pesawat 737 Max yang disebut terkait dua insiden tersebut.

Sebagai bagian dari pemutakhiran, Boeing akan memasang sistem peringatan sebagai standar baru pada pesawat 737 Max, yang sebelumnya merupakan fitur opsional keselamatan.

Boeing menyebut perangkat lunak sudah dimutakhirkan sehingga MCAS tak lagi berfungsi jika terdapat data sensor yang bertentangan.

Badan Penerbangan Federal AS (FAA) mengatakan ada kemiripan antara peristiwa Lion Air dan Ethiopian Airlines.

Dalam jumpa pers sebelumnya, Boeing menegaskan pemutakhiran ini bukanlah pengakuan bahwa sistem tersebut yang menyebabkan jatuhnya pesawat Lion Air dan Ethiopian Airlines.

Kesulitan apa yang dihadapi Boeing?

Kecelakaan yang menimpa pesawat maskapai Ethiopian Airlines ET302 menyebabkan maskapai di seluruh dunia "tidak menerbangkan" pesawat 737 Max.

Perusahaan ini juga mendapat cecaran pertanyaan mengapa mereka tidak melakukan larangan terbang terhadap model 737 Max lebih awal setelah insiden di Indonesia.

Beberapa negara —termasuk Indonesia, Inggris, dan China—melarang pengoperasian Boeing 737 Max menyusul jatuhnya pesawat jenis ini di Ethiopia dan Indonesia. Sejumlah maskapai kemudian membatalkan pemesanan model ini.

Setelah pernyataan itu, saham Boeing turun lebih dari 1% dalam neraca perdagangan setelah berakhirnya jam kerja.

Pihak Boeing sudah meminta maaf atas insiden dua kecelakaan tersebut. Namun langkah ini belum memuaskan sebagian keluarga korban yang mempertanyakan mengapa Boeing tidak bertindak untuk menerbangkan model pesawat itu

Ayah dari pilot Ethiopian Airlines, Dr Getachew Tessema, mengatakan kepada BBC bahwa permintaan maaf itu "sudah terlambat".

Pilot Yared Getachew (29) memiliki pengalaman terbang lebih dari 8.000 jam ketika dia menjadi korban meninggal dalam kecelakaan itu.

"Saya sangat bangga dengan putra saya dan copilotnya," katanya, kepada BBC, Sabtu (6/4/2019).

"Sampai menit-menit terakhir, mereka berbuat maksimal, tetapi sayangnya mereka tidak dapat mengendalikannya," ungkapnya.

"Saya sama-sekali tidak menyesali posisinya sebagai pilot. Dia gugur dalam tugasnya."

Tessema menyalahkan kesalahan langsung dari pihak Boeing, yang disebutnya tidak menghentikan operasional 737 Max setelah kecelakaan di Indonesia.

"Mengapa mereka membiarkan model itu tetap terbang? Karena mereka takut kalah bersaing. Mereka ingin menjual sebanyak mungkin tiket. Kehidupan manusia tidak ada artinya."

Keluarga seorang penumpang asal AS yang tewas dalam kecelakaan di Ethiopia, Samya Stumo, yang berusia 24 tahun, mengajukan gugatan pertama terhadap Boeing pada Kamis di Chicago.

Editor: Nathania Riris Michico

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut