Fiji Darurat HIV, Bayi 2 Bulan Jadi Pasien Termuda Sekaligus Idap TB
WASHINGTON, iNews.id - Wabah Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Fiji semakin mengkhawatirkan. Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh itu kini telah menjangkiti bayi baru lahir, bahkan seorang bayi berusia 2 bulan menjadi pasien termuda yang teridentifikasi mengidap HIV sekaligus tuberkulosis (TB).
Save the Children Fiji mencatat, sedikitnya 59 bayi tertular HIV dari ibu mereka sepanjang 2025. Kondisi ini menjadi salah satu gambaran serius dari wabah HIV yang tengah melanda negara kepulauan di Pasifik tersebut.
Menteri Kesehatan Fiji Atonio Lalabalavu kemudian mengumumkan keadaan darurat HIV pada Selasa (15/8/2026). Keputusan itu diambil setelah tercatat 2.060 kasus baru HIV sepanjang 2025.
Fiji, negara dengan jumlah penduduk kurang dari 1 juta jiwa, kini diperkirakan memiliki angka infeksi sekitar 1 dari setiap 60 orang dewasa. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan lima tahun sebelumnya, ketika diperkirakan 1 dari 167 penduduk Fiji hidup dengan HIV.
Situasi semakin pelik karena HIV dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan risiko seseorang terkena TB. Kondisi tersebut membuat bayi yang terinfeksi HIV menghadapi ancaman kesehatan berlapis sejak usia sangat dini.
Fiji pertama kali mengumumkan wabah HIV pada Januari 2025. Peningkatan pemeriksaan kesehatan setelahnya justru mengungkap skala epidemi yang lebih besar dan menunjukkan bahwa kondisi tersebut semakin memburuk.
Penasihat Fiji untuk Program Bersama PBB tentang HIV/AIDS (UNAIDS), Renata Ram, mengaku khawatir dengan cepatnya penyebaran virus tersebut.
"Hal yang paling mengkhawatirkan saya adalah kecepatan penyebaran epidemi ini dan banyaknya orang yang tak sadar bahwa mereka mungkin hidup dengan HIV," kata Ram, seperti dikutip dari CNN.
Persoalan lainnya adalah masih rendahnya kesadaran mengenai status HIV. Hanya sekitar 39 persen warga Fiji yang terpapar HIV mengetahui bahwa mereka telah terinfeksi. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 22 persen yang menjalani pengobatan.
Dampak wabah tersebut juga terlihat dari meningkatnya angka kematian. Data statistik kesehatan nasional Fiji mencatat 117 kematian terkait HIV pada 2025, melonjak dibandingkan 25 kasus pada 2021.
Jika tidak ditangani, HIV dapat berkembang menjadi Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Kondisi tersebut membuat sistem kekebalan tubuh sangat lemah sehingga penderitanya lebih rentan terhadap infeksi serius dan sejumlah penyakit, termasuk kanker.
Editor: Anton Suhartono