Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Posting-an Video Barack Obama Bertubuh Monyet, Trump: Bukan Salah Saya!
Advertisement . Scroll to see content

Filipina Larang 2 Senator AS Masuk Negaranya dan Ancam Batasi Visa bagi Warga AS

Jumat, 27 Desember 2019 - 19:26:00 WIB
Filipina Larang 2 Senator AS Masuk Negaranya dan Ancam Batasi Visa bagi Warga AS
Salvador Panelo (Screengrab: Facebook)
Advertisement . Scroll to see content

MANILA, iNews.id - Filipina melarang masuk dua senator Amerika Serikat (AS) dan mengancam akan memberlakukan pembatasan visa bagi warga Negeri Paman Sam yang akan memasuki negara itu. Saat ini turis AS yang dapat masuk Filipina dengan bebas visa hingga 30 hari.

Juru Bicara Presiden Rodrigo Duterte, Salvador Panelo, mengatakan, pengetatan visa akan diberlakukan jika AS menjatuhkan sanksi terhadap para pejabat Filipina yang terlibat memenjarakan pemimpin oposisi Filipina senator Leila de Lima.

Dua senator AS yang dilarang masuk adalah Richard Durbin dan Patrick Leahy. Mereka memperkenalkan aturan dalam anggaran AS 2020, mencegah pejabat Filipina yang terlibat dalam penahanan Leila untuk memasuki AS.

AS akan melarang masuk pejabat Filipina jika departemen luar negeri mendapati informasi yang dapat dipercaya tentang keterlibatan para pejabat dalam memenjarakan Leila.

Leila merupakan tokoh oposisi yang vokal menentang penggunaan kekerasan dalam perang terhadap kejahatan narkoba yang dilakukan Duterte. Dia dipenjara sejak Februari 2017 terkait tuduhan narkoba, namun membantah.

"Jika mereka akan menegakkan ketentuan ini dalam anggaran AS, maka kami terpaksa mewajibkan semua warga AS yang masuk ke negara ini untuk mendapatkan visa sebelum mereka diizinkan masuk," kata Panelo, dikutip dari AFP, Jumat (27/12/2019).

Dia menegaskan tak akan tunduk dan rela urusan dalam negeri Filipina dicampuri oleh AS.

"Kami tidak akan duduk diam jika mereka terus mengganggu kami sebagai negara yang berdaulat," kata Panelo.

Sementara itu dalam pernyataan tertulis dari penjara, Leila berterima kasih kepada dua senator AS yang menerbitkan ketentuan tersebut.

"Impunitas tidak bisa bertahan lama," tuturnya.

Mantan komisioner HAM itu menegaskan penahanannya merupakan tindakan balas dendam. Selama 10 tahun dia berjuang mengekspos keterlibatan militer dalam pembunuhan saat Duterte masih menjabat Wali Kota Davao.

AS merupakan sekutu lama Filipina dan juga mitra pertahanan terbesar. Banyak warga Filipina yang berimigrasi ke AS dan menjadi warga negara sana.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut