Geger! Butik Hermes di Marseille Dijarah, Kerusuhan Prancis Memanas
MARSEILLE, iNews.id – Butik mewah Hermes di pusat Kota Marseille, Prancis, menjadi sasaran penjarahan di tengah kerusuhan yang melanda kota tersebut pada Sabtu (17/10/2026). Insiden ini menjadi bagian dari gelombang kekerasan yang menyebabkan puluhan toko mengalami penjarahan dan kerusakan.
Mengutip laporan media lokal Maritima, sejumlah kelompok penjarah menyasar berbagai toko di kawasan komersial antara gedung prefektur dan Vieux-Port, Marseille. Toko yang terdampak berasal dari beragam sektor, mulai dari fashion, barang mewah, elektronik, kosmetik, perhiasan, hingga toko makanan dan toko roti.
Butik Hermès, salah satu merek barang mewah asal Prancis yang dikenal dengan produk tas, aksesori, dan fashion, termasuk dalam deretan usaha yang terdampak. Namun, laporan yang tersedia tidak menyebutkan secara terperinci nilai kerugian maupun jumlah barang yang diambil dari butik tersebut.
Penjarahan terjadi ketika situasi di pusat Marseille memburuk di tengah aksi demonstrasi. Sejumlah kelompok dilaporkan merusak etalase toko, membakar benda-benda di jalan, dan terlibat bentrokan dengan aparat keamanan.
Direktur toko pakaian Armenak di Rue Paradis, Sébastien Ferment, menggambarkan bagaimana sekelompok orang merusak tokonya. Dalam laporan yang dikutip Maritima dari AFP, sekitar 40 orang disebut memaksa masuk dengan merusak etalase. Perabot toko dihancurkan dan stok barang diambil.
Kerusuhan juga berdampak pada fasilitas publik. Balai Kota Marseille sempat dimasuki sejumlah orang yang merusak bagian dalam gedung. Aparat kemudian dikerahkan untuk mengendalikan situasi dan mencegah kerusakan lebih lanjut.
Kerusuhan di Marseille berlangsung di tengah demonstrasi nasional di Prancis pada 17 Oktober 2026. Aksi tersebut berkaitan dengan meningkatnya biaya hidup, persoalan daya beli, serta tuntutan terhadap layanan publik dan kondisi pendidikan.
Menurut laporan Reuters, demonstrasi berlangsung di berbagai kota di Prancis. Sebagian besar peserta mengikuti aksi secara damai, tetapi kelompok tertentu terlibat dalam kekerasan, pembakaran, penjarahan, dan serangan terhadap aparat maupun bangunan publik.
Situasi tersebut memperlihatkan bagaimana demonstrasi yang membawa tuntutan sosial dapat diwarnai tindakan kriminal yang berdampak pada masyarakat dan pelaku usaha. Di Marseille, penjarahan tidak hanya menyasar toko mewah, tetapi juga berbagai usaha kecil dan menengah yang berada di kawasan pusat perdagangan.
Pemerintah Prancis menghadapi tekanan untuk memulihkan ketertiban sekaligus merespons persoalan sosial dan ekonomi yang menjadi latar belakang aksi tersebut. Sementara itu, para pemilik usaha harus menghadapi dampak kerusakan dan kehilangan barang dagangan akibat penjarahan.
Hingga laporan ini disusun, belum ada keterangan terperinci mengenai total kerugian yang dialami butik Hermès di Marseille. Belum dapat dipastikan pula apakah butik tersebut mengalami kerusakan struktural berat atau hanya kerusakan pada bagian toko dan etalasenya.
Editor: Muhammad Sukardi