Gelombang Panas Dahsyat, Suhu Negara-Negara Arab Tembus 50 Derajat Celsius
DUBAI, iNews.id - Gelombang panas dahsyat diperkirakan menerjang sebagian besar negara-negara Arab dalam beberapa hari mendatang. Suhu diperkirakan mendekati hingga menembus 50 derajat Celsius.
Kondisi itu dipicu sistem tekanan tinggi yang terus-menerus serta kubah termal yang intens semakin menguat di kawasan Teluk.
Para ahli meteorologi mengatakan, sekitar 10 negara Arab akan terdampak pola cuaca ini, memicu periode panas ekstrem berkepanjangan, malam yang hangat, hingga potensi hujan lebat di beberapa negara pada akhir musim.
Hasil pemodelan cuaca menunjukkan, kondisi paling parah akan terkonsentrasi di Semenanjung Arab dan Irak, khususnya Kuwait, Arab Saudi bagian timur, wilayah pedalaman dan gurun Uni Emirat Arab (UEA), dan Baghdad. Suhu pada siang hari di wilayah-wilayah itu diperkirakan mencapai 50 derajat Celsius.
Sementara itu Yordania, Lebanon, dan Palestina juga diperkirakan mengalami kondisi panas hingga sangat panas, meski daerah pegunungan diperkirakan relatif lebih dingin.
Prakiraan cuaca di kawasan ini muncul ketika badan meteorologi nasional seluruh negara Timur Tengah memperingatkan gelombang panas yang intens saat ini kemungkinan berlanjut hingga pekan depan
Beberapa negara mengeluarkan imbauan kesehatan masyarakat yang mendesak warga menghindari paparan sinar matahari berkepanjangan, tetap terhidrasi, serta melakukan tindakan pencegahan ekstra selama jam-jam panas di siang hari.
Di UEA, suhu telah menembus tingkat ekstrem. Pusat Meteorologi Nasional (NCM) mencatat suhu tertinggi 50 derajat Celsius pada Sabtu (1/8/2026) pukul 14.30 waktu setempat, yakni di Al Shawamekh, Abu Dhabi.
Arab Saudi diperkirakan akan jauh lebih hangat dari rata-rata, tidak hanya dalam beberapa hari mendatang namun sepanjang Agustus, September, dan Oktober.
Arab Saudi diperkirakan akan mengalami kondisi paling kering pada Agustus, terutama di sebagian Jazan, Al Baha, Najran, Asir, Makkah, Madinah, Tabuk, Riyadh, dan Provinsi Timur, sebelum curah hujan secara bertahap meningkat pada September hingga meluas lagi pada Oktober.
Editor: Anton Suhartono