George Weah, dari Lapangan Hijau ke Kursi Presiden
MONROVIA, iNews.id – George Weah dilantik menjadi Presiden Liberia ke-25, Senin (22/1/2018). Dalam pemilihan presiden (pilpres) yang digelar pada tahun lalu, Weah mengalahkan Wakil Presiden Joseph Boakai dengan merebut 61,5 persen suara, sehingga bisa menggantikan Presiden Ellen Johnson Sirleaf yang sudah berkuasa selama 12 tahun.
Pria berusia 51 tahun itu merupakan bintang sepak bola dunia di era 1990-an. Klub-klub beken Eropa sudah dimasukinya, di antaranya Paris Saint Germain, AC Milan, serta Chelsea. Bisa dibilang, puncak kariernya di sepak bola adalah saat meraih gelar pemain terbaik dunia dari FIFA serta mendapat hadiah Ballon d’Or.
Hadiah itu mengantarkannya sebagai orang Afrika pertama yang menjadi pemain terbaik di dunia.
Tak hanya itu, Weah juga membawa pulang gelar pemian terbaik Eropa dan Afrika. Tak heran jika tokoh kulit hitam Afrika, Nelson Mandela, menjulukinya dengan ‘Kebanggaan Afrika’.
Meski demikian, sangat disayangkan, Weah belum pernah tampil di Piala Dunia bersama tim nasional Liberia. Tak mudah bagi pria kelahiran 1 Oktober 1966 itu untuk duduk di kursi presiden.
Dia sudah merintis menjadi orang nomor 1 di Liberia sejak 13 tahun lalu. Pada pilpres tahun 2005, dia harus mengakui Sirleaf lah yang lebih dipercaya rakyat untuk memimpin negara di Afrika barat tersebut.
Dia pertama kali mengikuti pilpres Liberia pada 2005. Saat itu, dia kalah dari Sirleaf, presiden perempuan pertama, tak hanya di Liberia tapi juga Afrika.
Namun dia tak patah semangat. Weah ikut kembali dalam pilpres 2011, meski lagi-lagi gagal.
Keburuntungan baru menyertai Weah dalam pilpres 2017. Komisi pemilihan umum Liberia, Kamis 28 Desember 2017, menyatakan pria yang maju melalui kendaraan Partai Kongres untuk Perubahan Demokrasi itu akan menggantikan posisi Presiden Ellen Johnson Sirleaf pada Januari 2018.
Jalan untuk ke istana dalam pemilu 2017 pun tak mudah. Weah harus melalui dua putaran, setelah pada pilpres tahap pertama, yakni Oktober, dia gagal mendapat suara 50 persen, melainkan hanya 38,4 persen.
Sementara perolehan suara Boakai berada di bawahnya, 28,8 persen.
Menjadi presiden, Weah mengandalkan program utamanya di bidang pendidikan, menciptakan lebih banyak lapangan kerja, serta pembangunan infrastruktur. Ternyata jualannya laku keras sehingga rakyat memercayakan suara mereka melalui Weah.
“Saya cuma manusia, saya berusaha agar bisa jadi sempurna, dan saya bisa sukses,” kata Weah, kepada wartawan, menjelang pelantikannya, dikutip dari AFP.
Di tangan Presiden Liberia ke-25 ini, harapan jutaan warga Liberia digantungkan. Weah merupakan presiden pertama di era transisi demokrasi sejak 1944. Tak cuma itu, dia juga diharapkan bisa membawa Liberia keluar dari krisis ekonomi dan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan.
Jika gagal, maka sanga mungkin kepercayaan publik terhadap politik di Liberia akan pupus.
Editor: Anton Suhartono