Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Uni Emirat Arab Diserang Drone, Iran: Pelakunya Israel
Advertisement . Scroll to see content

Geram Kapalnya Disita, Inggris: Iran Memilih Jalur Berbahaya

Minggu, 21 Juli 2019 - 15:13:00 WIB
Geram Kapalnya Disita, Inggris: Iran Memilih Jalur Berbahaya
Kapal Stena Impero milik Inggris yang disita oleh Iran. (FOTO: AFP)
Advertisement . Scroll to see content

LONDON, iNews.id - Menteri Luar Negeri (Menlu) Jeremy Hunt mengaku khawatir karena Iran mengambil posisi di "jalur berbahaya" setelah merampas kapal tanker minyak Inggris, Stena Impero. Kapal itu disita pasukan Teheran di Selat Hormuz, Teluk Persia, pada Jumat (19/7/2019).

Kantor berita Fars melaporkan, Stena Impero dibawa ke pelabuhan Bandar Abbas setelah kapal tanker itu tabrakan dengan kapal penangkap ikan Iran.

"Tindakan kemarin di Teluk menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan bahwa Iran mungkin memilih jalur berbahaya dengan perilaku ilegal dan tidak stabil setelah penahanan legal Gibraltar atas (kapal tanker) minyak yang ditujukan ke Suriah," kata Hunt, mengacu pada perampasan kapal tanker Grace 1 milik Iran di perairan Gibraltar oleh Marinir Kerajaan Inggris.

"Seperti yang saya katakan kemarin, reaksi kami akan dipertimbangkan, tetapi kuat. Kami telah berusaha menemukan cara untuk menyelesaikan masalah Grace 1, tetapi akan memastikan keamanan (kapal) pengiriman kami," ujarnya, seperti dilaporkan Reuters, Minggu (21/7/2019).

Seperti diberitakan sebelumnya, Marinir Kerajaan Inggris menyita kapal tanker Grace 1 milik Iran di perairan Gibraltar pada 4 Juli atas dugaan penyelundupan minyak ke Suriah. Dugaan itu dianggap sebagai pelanggaran sanksi Uni Eropa yang dijatuhkan terhadap pemerintah Suriah.

Hunt mengaku sangat prihatin dengan hilangnya kontak antara pekerja bantuan berkebangsaan Inggris-Iran yang dipenjara, Nazanin Zaghari-Ratcliffe dan keluarganya setelah dia dipindahkan dari penjara di Teheran ke bangsal psikiatri di sebuah rumah sakit.

"Kami berharap ini berarti dia mendapatkan perawatan medis yang dia butuhkan, tetapi fakta bahwa dia telah terputus dari kontak dengan keluarganya, memberi kami alasan yang sangat memprihatinkan," lanjut Menlu Inggris tersebut.

Zaghari-Ratcliffe, seorang manajer proyek untuk Thomson Reuters Foundation, ditangkap pada 2016 di bandara Teheran ketika dia hendak kembali ke Inggris bersama putrinya setelah kunjungan keluarga di Teheran. Dia dihukum atas tuduhan merencanakan penggulingan rezim Iran dan dijatuhi hukuman lima tahun penjara.

Keluarganya dan pihak Thomson Reuters Foundation—sebuah organisasi amal yang beroperasi secara independen dari Thomson Reuters dan kantor berita Reuters—membantah tuduhan itu.

Editor: Nathania Riris Michico

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut