Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Harga Minyak Brent Bakal Tergelincir ke USD45 di 2018  
Advertisement . Scroll to see content

Harga Minyak Dunia Kembali Menguat usai MoU Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir

Selasa, 18 Agustus 2026 - 07:42:00 WIB
Harga Minyak Dunia Kembali Menguat usai MoU Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir
Harga minyak dunia kembali melonjak setelah Iran dan AS menolak memperpanjang kesepakatan sementara MoU di tengah ancaman eskalasi konflik. (Foto: AP)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Harga minyak mentah dunia menguat pada perdagangan, Selasa (18/8/2026) usai batas waktu kesepakatan atau Memorandum of Understanding (MoU) gencatan senjata 60 hari antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir pada Senin (17/8/2026).

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 0,46 persen ke level 84,96 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah Brent, yang menjadi patokan harga minyak global, menguat 0,30 persen menjadi 91,17 dolar AS per barel.

Melansir CNBC, kesepahaman yang ditandatangani pada Juni tersebut dijadwalkan berakhir pada Senin. Di tengah ketidakpastian itu, seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran siap mengubah strategi dari bertahan menjadi menyerang jika jalur diplomasi dengan Washington gagal.

"Iran akan siap mengambil keputusan dan tindakan sulit," kata pejabat Iran tersebut dilansir dari Reuters, seraya memperingatkan kemungkinan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya.

AS dan Iran sebelumnya menyepakati nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MOU) pada 17 Juni. Kesepakatan tersebut ditujukan untuk membuka kembali Selat Hormuz sambil kedua negara bernegosiasi mengenai kesepakatan final terkait program nuklir Iran dalam waktu 60 hari.

Namun, Iran kini menegaskan tidak ada pembicaraan untuk memperpanjang kesepahaman tersebut.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran, Esmail Baghaei, mengatakan Teheran tidak pernah memulai negosiasi untuk memperpanjang MoU tersebut. Dia juga menuduh AS telah melanggar kesepahaman sejak awal.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump juga mengatakan tidak akan berupaya memperpanjang gencatan senjata dengan Iran.

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump bahkan mendesak Iran untuk menyerah. Dia juga mengancam Oman, sekutu AS yang berperan dalam pembicaraan dengan Iran terkait pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Ketegangan tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi dunia. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling penting karena menjadi rute bagi sebagian besar pengiriman energi dari kawasan Teluk.

Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz pada Minggu berada di titik yang sangat rendah. Data Kpler menunjukkan hanya tiga kapal yang melintasi selat tersebut.

Rata-rata lima hari terakhir juga hanya mencapai sekitar 12 kapal per hari. Angka tersebut jauh di bawah sekitar 130 kapal yang biasanya melintasi jalur tersebut sebelum perang dimulai pada 28 Februari.

Jika kondisi tersebut berlanjut, gangguan pasokan berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak dunia.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut