Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : AS-Iran Setop Perang, Giliran Kelompok Pro-Iran Gempur Fasilitas Minyak Saudi
Advertisement . Scroll to see content

Harga Minyak Dunia Merosot usai AS Hentikan Serangan ke Iran

Selasa, 28 Juli 2026 - 10:20:00 WIB
Harga Minyak Dunia Merosot usai AS Hentikan Serangan ke Iran
Harga minyak dunia merosot tajam usai Amerika Serikat (AS) menghentikan sementara serangan ke Iran. (Foto: Ilustrasi/Freepik)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Harga minyak dunia merosot tajam usai Amerika Serikat (AS) menghentikan sementara serangan ke Iran. Langkah ini memunculkan harapan bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah dapat mereda dan membuka jalan bagi perundingan.

Melansir BBC, harga minyak mentah jenis Brent, yang menjadi acuan global, turun 1,77 persen ke level 86,59 dolar AS per barel pada Selasa (28/7/2026). Penurunan ini berbalik arah dibandingkan pekan lalu ketika harga Brent sempat menembus 100 dolar AS per barel.

Penurunan harga terjadi usai Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa serangan terhadap Iran telah dihentikan selama dua malam berturut-turut guna memberikan ruang bagi proses perundingan.

Di sisi lain, juru bicara militer Iran pada hari Minggu juga menyampaikan bahwa Teheran telah menghentikan serangan balasan di kawasan tersebut.

Pecahnya perang antara Iran dan AS sebelumnya memicu lonjakan harga minyak dunia karena konflik menyebabkan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia, praktis ditutup. Jalur ini biasanya dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Ketika Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman pada Juni untuk menghentikan operasi militer serta membuka kembali Selat Hormuz, harga minyak sempat kembali ke kisaran 70 dolar AS per barel, atau mendekati level sebelum perang.

Namun, gagalnya gencatan senjata pada awal bulan ini kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global sehingga harga minyak kembali melonjak.

Pekan lalu, harga Brent menyentuh 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Kenaikan tersebut turut dipicu serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap kapal tanker minyak di Laut Merah, yang mengancam jalur ekspor utama Arab Saudi sebagai alternatif selain Selat Hormuz.

Meski harga minyak turun tajam, Kepala Strategi Investasi Wealth Club, Susannah Streeter menilai, pasar masih berhati-hati karena konflik masih berpotensi berubah sewaktu-waktu.

Menurutnya, penurunan harga minyak belum sepenuhnya menghilangkan ketidakpastian. Pelaku pasar juga masih meragukan apakah proses negosiasi akan menghasilkan penyelesaian yang bersifat permanen.

Tidak hanya minyak, harga gas alam grosir juga mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Lembaga riset Wood Mackenzie dalam laporannya pekan lalu menyebut cadangan gas Eropa berada di level terendah dalam sejarah sehingga keamanan pasokan untuk musim dingin mendatang menghadapi risiko.

Wood Mackenzie memprediksi jika Selat Hormuz tetap ditutup selama dua bulan ke depan, tingkat penyimpanan gas Eropa pada 1 November hanya akan berada di bawah 70 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir yang mencapai sekitar 90 persen pada periode yang sama.

Konflik antara AS dan Iran juga mendorong kenaikan harga bahan bakar seperti bensin dan solar di banyak negara. Kenaikan biaya energi tersebut berpotensi meningkatkan harga berbagai barang, termasuk pangan, karena dunia usaha cenderung meneruskan beban biaya kepada konsumen.

Kondisi itu dapat mendorong inflasi lebih tinggi dan meningkatkan peluang bank-bank sentral menaikkan suku bunga guna menekan laju kenaikan harga.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut