Heboh Gempa Dahsyat M7,1 Jepang Disebut Buatan Manusia, Mungkinkah?
TOKYO, iNews.id - Gempa bumi bermagnitudo 7,1 yang mengguncang Kumamoto, Jepang, pada 28 Juli, memicu berbagai spekulasi di media sosial. Salah satu klaim yang ramai diperbincangkan menyebut gempa tersebut merupakan hasil rekayasa atau buatan manusia, bukan fenomena alam.
Namun, benarkah gempa sebesar itu bisa diciptakan manusia? Para ahli seismologi Jepang dengan tegas membantah spekulasi tersebut. Mereka menyatakan teori tersebut tidak realistis jika ditinjau dari sisi teknologi, biaya, maupun aspek praktis.
Komunitas Seismologi Jepang menjelaskan, gempa M7,1 Kumamoto terjadi pada kedalaman sekitar 10 hingga 16 kilometer di bawah permukaan bumi. Untuk menciptakan gempa pada kedalaman tersebut, diperlukan pengeboran yang sangat dalam, sesuatu yang hingga kini masih menjadi tantangan besar bagi teknologi modern.
Selain harus mengebor hingga lebih dari 10 km, manusia juga harus menghasilkan energi yang sangat besar untuk memicu pelepasan energi sebanding dengan gempa bermagnitudo 7,1. Menurut para ahli, kemampuan tersebut belum dimiliki oleh teknologi saat ini.
Bahkan, meskipun ledakan nuklir diketahui dapat memicu getaran seismik, Komunitas Seismologi Jepang menegaskan bahwa teknologi untuk melakukan ledakan nuklir pada dasar lubang pengeboran sedalam itu belum pernah dikembangkan.
Sebagai gambaran, lubang terdalam yang pernah dibuat manusia adalah Kola Superdeep Borehole di Rusia dengan kedalaman sekitar 12,3 kilometer. Proyek tersebut membutuhkan waktu hampir 20 tahun untuk diselesaikan, sehingga menunjukkan betapa sulitnya mencapai kedalaman yang menjadi sumber gempa bumi besar.
Spekulasi mengenai gempa buatan manusia mencuat setelah seorang pengguna media sosial X mengunggah klaim bahwa gelombang seismik yang terekam berasal dari ledakan, bukan gempa alami. Unggahan tersebut telah ditonton lebih dari 3 juta kali hingga Kamis (6/8/2026).
Meski banyak pengguna media sosial yang membantah klaim tersebut, narasi bahwa gempa Kumamoto merupakan hasil rekayasa manusia terus bermunculan setiap hari dengan puluhan ribu penyebutan.
Maraknya teori tersebut bahkan mendorong Komunitas Seismologi Jepang membuat bagian Frequently Asked Questions (FAQ) di situs resminya sejak Maret lalu. Dalam penjelasan itu, para ahli menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada teknologi yang memungkinkan manusia menciptakan gempa bumi sebesar M7,1 seperti yang terjadi di Kumamoto.
Gempa M7,1 yang mengguncang Kumamoto pada 28 Juli lalu juga memicu peringatan tsunami dan mengakibatkan hampir 40 orang meninggal dunia.
Editor: Anton Suhartono