Heboh Supermarket di Eropa Diserang Hacker Bikin Daging Busuk, Apa Alasannya?
LONDON, iNews.id - Serangan siber terhadap puluhan supermarket di tujuh negara Eropa memunculkan pertanyaan besar, mengapa hacker menyasar lemari es atau freezer, bukan sistem pembayaran maupun data pelanggan?
Serangan tersebut menyebabkan sistem pendingin supermarket mengalami gangguan. Suhu freezer yang seharusnya tetap dingin mendadak meningkat hingga 50 derajat Celsius. Akibatnya, daging dan berbagai produk makanan beku dan sayuran rusak, sehingga harus dibuang.
Sekitar 40 supermarket Delhaize di Belgia dan Luksemburg menjadi korban. Serangan serupa juga dilaporkan terjadi di Swedia, Irlandia, Belanda, Estonia, dan Finlandia.
Sistem pendingin yang menjadi sasaran merupakan bagian penting dari operasional supermarket. Sebagian besar peralatan tersebut terhubung ke internet agar pemeliharaan dan pemecahan masalah bisa dilakukan dari jarak jauh.
Koneksi internet itu pula yang diduga menjadi celah bagi pelaku untuk mengganggu sistem pengendalian lemari es.
CEO Sabcobel, perusahaan Belgia yang memproduksi sejumlah perangkat pendingin supermarket, Stephan Moelans, memastikan insiden tersebut merupakan serangan siber.
Dia mengatakan, perusahaannya bekerja sepanjang waktu untuk memutus sambungan unit yang terdampak dari jaringan guna mencegah serangan semakin meluas.
"Solusi paling sederhana adalah mengelola lemari es melalui koneksi internet yang aman. Sebagian besar pelanggan kami beralih ke cara itu setelah serangan Prancis," ujarnya, seperti dilaporkan BBC, Selasa (3/11/2026).
Mengapa Hacker Menyerang Lemari Es?
Salah satu alasan sistem pendingin menjadi sasaran adalah ketergantungannya pada jaringan internet. Koneksi tersebut memungkinkan operator memantau suhu, mengatur perangkat, serta melakukan pemeliharaan tanpa harus mendatangi lokasi secara langsung.
Namun, apabila sistem pengamanan jaringan tidak memadai, perangkat yang terhubung ke internet berpotensi dimanfaatkan untuk melakukan tindakan tanpa izin.
Dalam kasus ini, serangan diduga membuat sistem pengendali pendingin bekerja tidak sebagaimana mestinya. Evaporator bahkan beralih ke mode pencairan es sehingga suhu freezer meningkat drastis.
CEO Sabcobel menjelaskan, perusahaan sebenarnya telah berupaya memperkuat perlindungan sejak serangan serupa terjadi di Prancis pada awal Oktober.
Namun, perlindungan tersebut membutuhkan modifikasi fisik pada unit pendingin, bukan sekadar pembaruan perangkat lunak atau software.
Hingga kini, belum diketahui siapa pelaku di balik serangan terbaru maupun motif sebenarnya.
Kerugian Supermarket Capai Miliaran Rupiah
Dampak serangan siber tersebut tidak sekadar mengganggu operasional supermarket. Kerusakan sistem pendingin membuat berbagai produk makanan beku tidak lagi layak dipertahankan.
Di Flanders, Belgia, cabang Delhaize di Hoeilaart melaporkan kerugian mencapai 100.000 euro atau sekitar Rp1,9 miliar. Angka tersebut berasal dari produk makanan beku yang terpaksa dibuang dan belum termasuk kerugian akibat penutupan toko.
Carrefour, jaringan supermarket asal Prancis, mengatakan serangan memengaruhi 15 tokonya di Belgia. Namun, perusahaan mengaku lebih siap menghadapi insiden sehingga tidak perlu menutup gerai-gerainya.
Sementara itu, lima toko yang beroperasi di bawah jaringan waralaba Spar di Belgia juga mengalami serangan terhadap sistem pendingin.
Di Swedia, tujuh dari sekitar 800 toko Coop terdampak. Sejumlah toko ICA juga mengalami gangguan serupa.
Peritel furnitur IKEA bahkan mengonfirmasi sistem pendingin di tokonya di Mons, Belgia, ikut terkena dampak.
Gangguan juga terdeteksi di sejumlah toko K-store di Finlandia. Pemilik jaringan supermarket Kesko menyatakan para ahli keamanan mereka sedang menyelidiki penyebab masalah tersebut.
AS Ikut Selidiki Kerusakan Sistem Pendingin Pangkalan Militer
Hal yang semakin mengkhawatirkan, penyelidikan serangan siber terhadap sistem pendingin tidak hanya menyangkut supermarket.
Pihak berwenang Amerika Serikat juga menyelidiki penyebab kerusakan sistem pendingin di sejumlah pangkalan militer pada Agustus. Penyelidikan tersebut dilakukan bersama pejabat Prancis untuk memeriksa kemungkinan adanya keterkaitan dengan insiden di Eropa.
Badan keamanan siber nasional Belgia dan Swedia menyatakan sedang memantau serangan tersebut.
Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris juga bekerja sama dengan mitra internasional dan industri untuk mempelajari insiden tersebut. Sejauh ini, belum ada serangan serupa yang dilaporkan terjadi di Inggris.
Serangan terbaru ini diduga memiliki kemiripan dengan insiden yang menghantam ratusan supermarket di Prancis pada Oktober. Saat itu, produk makanan senilai jutaan euro harus dibuang akibat gangguan sistem pendingin.
Meski demikian, belum ada bukti yang memastikan seluruh insiden tersebut dilakukan oleh kelompok hacker yang sama.
Penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap pelaku, metode serangan, serta kemungkinan sasaran berikutnya.
Editor: Anton Suhartono