IAEA Desak Rusia Segera Bebaskan Dirjen PLTN Zaporizhzhia yang Ditahan
ZURICH, iNews.id - Kepala pengawas nuklir PBB menyerukan agar Rusia segera membebaskan direktur jenderal pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Zaporizhzhia yang diduduki Rusia di Ukraina, Ihor Murashov. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menilai, penahanannya menimbulkan ancaman bagi keselamatan dan keamanan.
"Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menyatakan harapan Murashov akan kembali ke keluarganya dengan selamat dan segera dan akan dapat melanjutkan fungsi pentingnya di pabrik," cuit IAEA pada Sabtu (1/10/2022) malam.
IAEA telah melakukan kontak dengan pihak berwenang terkait untuk meminta klarifikasi tentang penahanan sementara Ihor Murashov. Penahanan dikatakan memiliki dampak yang sangat signifikan pada diri Ihor Murashov dan juga standar keselamatan dan keamanan nuklir.
Badan pengawas itu pada Sabtu (1/102022) mengatakan, Grossi diperkirakan akan mengadakan pembicaraan di Moskow dan Kiev minggu depan mengenai pembuatan zona perlindungan di sekitar pabrik Zaporizhzhia.
Rusia Lancarkan Serangan ke Sejumlah Wilayah Ukraina, Tuduh Kiev Tembaki PLTN Zaporizhzhia
Sebelumnya, Direktur Jenderal pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Zaporizhzhia yang diduduki Rusia di Ukraina ditahan oleh pasukan patroli Rusia.
Informasi ini disampaikan perusahaan milik negara yang bertanggung jawab atas pembangkit itu, Energoatom, pada Sabtu (1/10/2022). IAEA mengatakan Rusia telah mengkonfirmasi langkah tersebut.
Kerahkan Heli dan Jet Tempur, Rusia Gagalkan Operasi Tentara Ukraina Rebut PLTN Zaporizhzhia
Ihor Murashov ditahan dalam perjalanannya dari pembangkit nuklir terbesar di Eropa ke Kota Enerhodar pada Jumat (30/9/2022) sekitar pukul 4 sore waktu setempat.
Kepala Energoatom, Petro Kotin mengatakan, Murashov dibawa keluar dari mobil. Dengan mata tertutup, dia dibawa ke lokasi yang sampai saat ini belum diketahui.
Tuduh Ukraina Tembaki PLTN Zaporizhzhia, Rusia: Ancaman Bencana Nuklir Jadi Nyata!
"Tidak ada kabar langsung tentang nasib Murashov," katanya dalam Telegram.
Editor: Umaya Khusniah