Identifikasi Korban Sulit, Ethiopian Airlines Beri Kantung ke Keluarga
ADDIS ABABA, iNews.id - Maskapai Ethiopian Airlines menawarkan sekantung tanah dari lokasi jatuhnya pesawat ET 302 jenis Boeing 737 Max 8 sebagai pengganti 157 penumpang yang tewas, untuk dikuburkan pihak keluarga.
Tanah dari lokasi jatuhnya pesawat Boeing 737 Max 8 tersebut dipersiapkan untuk upacara pemakaman di Addis Ababa, yang digelar Minggu (17/3).
Otoritas setempat menyebut, keluarga bisa menunggu hingga enam bulan hingga seluruh korban bisa diidentifikasi.
Beberapa negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, memberlakukan larangan terbang bagi Boeing 737 Max 8, setelah jatuhnya ET-302 pada 10 Maret.
Ini merupakan insiden kedua yang melibatkan pesawat jenis tersebut, setelah jatuhnya JT 610 dari Maskapai Lion Air di perairan Indonesia, tahun lalu.
Menteri transportasi Ethiopia Dagmawit Moges mengatakan pada Sabtu (17/03), dibutuhkan waktu yang lama bagi tim penyelidik untuk menemukan penyebab terjadinya kecelakaan tersebut.
"Investigasi dengan magnitudo sebesar itu membutuhkan analisis yang cermat serta waktu penyelidikan yang cukup lama untuk menghasilkan sesuatu yang konkret," ujar Moges dalam konferensi pers, dilaporkan Reuters, Minggu (17/3/2019).
Keluarga korban pesawat ET 302 diminta menyediakan sampel DNA untuk diserahkan ke kantor Ethiopian Airlines, baik di Addis Ababa, atau di kantor cabang lainnya di seluruh dunia.
Adapun sertifikat kematian akan diterbitkan dalam waktu dua pekan mendatang.
"Tanah itu ditawarkan sebagai pengganti karena sulit mengindentifikasi bagian tubuh jenazah dan menyerahkannya kepada pihak keluarga," kata salah seorang kerabat korban.
"Tapi kami akan terus menunggu hingga kami mendapatkan jenazah ataupun bagian tubuh orang yang kami cintai."
Sebanyak 157 penumpang dari 30 negara berada dalam penerbangan ET 302 dari Addis Ababa menuju Nairobi, Kenya.
Investigasi penyebab kecelakaan tersebut kini dilakukan tim penyelidik gabungan dari seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat dan Prancis.
Kotak hitam pesawat, yang terdiri dari rekaman data penerbangan (FDR) dan rekaman suara kokpit (CVR), sudah ditemukan dan tim penyelidik berharap bisa menemukan titik terang dari tragedi tersebut.
Editor: Nathania Riris Michico