Ini Bantuan yang Dikirim 18 Negara untuk Korban Gempa Sulteng
JAKARTA, iNews.id - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyatakan sudah ada 18 negara dan dua organisasi internasional yang memberikan daftar bantuan secara konkret untuk korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, termasuk Amerika Serikat (AS), Prancis, Turki, dan Arab Saudi.
Dua hari setelah gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter disusul tsunami menghantam Kabupaten Donggala dan Kota Palu di Sulawesi Tengah (Sulteng), Presiden Joko Widodo akhirnya membuka pintu bagi masuknya bantuan internasional.
Kebijakan itu diambil setelah pemerintah kewalahan melakukan penangannan darurat terhadap korban gempa dan tsunami yang terus bertambah. Belum lagi rusaknya infrastruktur yang mengakibatkan layanan kebutuhan dasar, seperti pangan, tidak dapat dipenuhi.
Juru bicara Kemlu RI Arrmanatha Nasir menjelaskan, sejak hari pertama terjadinya gempa dan tsunami, berbagai negara sudah menawarkan bantuan kemanusiaan baik yang disampaikan langsung melalui Presiden Joko Widodo maupun Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.
Arrmanatha menyebut, Satuan Tugas Nasional Penanganan Gempa dan Tsunami Palu telah menginventarisir kebutuhan mendesak dalam masa tanggap darurat.
"Bantuan asing yang diharapkan, diprioritaskan adalah pesawat terbang, pesawat angkut seperti C-130 atau sejenisnya, tenda pengungsi, alat pengolahan air, genset, rumah sakit lapangan, dan peralatan medisnya," kata Arrmanatha.
Menurut Arrmanatha, hingga saat ini, sudah ada 18 negara dan dua organisasi internasional yang sudah memberikan daftar bantuan secara konkret, termasuk AS, Prancis, Turki, dan Arab Saudi. Dia mengatakan, pesawat yang membawa bantuan kemanusiaan dari Singapura dan India sudah mendarat di Balikpapan dan Palu.
Sejauh ini, kata dia, sebanyak 13 negara mendapat izin masuk untuk membawa bantuan kemanusiaan bagi korban gempa-tsunami di Donggala dan Palu. Kendati demikian, tidak otomatis pesawat dari 13 negara yang sudah mendapat izin bisa langsung masuk, sebab harus terlebih dahulu melihat kapasitas di bandar udara di Balikpapan, Palu, atau Makassar.
Arrmanatha menekankan, bantuan berupa pesawat angkut militer tetap dibolehkan masuk namun dengan jumlah personel terbatas.
Lebih lanjut, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan, sebagian negara menyatakan akan mengucurkan dana tunai. Uni Eropa misalnya mejanjikan 1,5 juta euro atau sekitar Rp26 milliar. Mereka juga akan mengirim tenaga medis dan membantu memetakan wilayah yang terkena dampak bencana dengan satelit.
China dan Malaysia, masing-masing menjanjikan Rp2,9 millliar dan Rp1,8 milliar. Inggris juga mengirim Rp39 milliar.
Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan bertugas mengkoordinasi bantuan pemerintah asing. Sedangkan Badan Kerja sama dan Penanaman Modal mengawal penyaluran bantuan dari lembaga asing swasta.
Dua pesawat Hercules C-130 milik Singapura sejak beberapa hari lalu membantu mengangkut logistik dari Jakarta ke Palu. Di samping itu, delapan Hercules dari Malaysia, India, Korea Selatan, dan AS juga siaga membantu.
Menurut Wiranto, bantuan pesawat akan mempercepat pengangkutan logistik.
Jepang dan Swiss memberikan bantuan alat penjernih air. Jepang, India, dan Negara-negara ASEAN juga membantu membuatkan rumah sakit lapangan beserta tenaga medis. Jepang dan India juga mengirim bantuan berupa generator listrik.
"Bantuan tersebut bisa berwujud barang, berwujud alat, bisa berwujud keahlian tertentu. Yang penting bantuan tepat waktu datang. Saat ini, kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan kebutuhan tanggap darurat, kebutuhan yang langsung dibutuhkan masyarakat," ujar Wiranto.
Terkait 120 warga negara asing yang menjadi korban dari bencana di Sulteng, Arrmanatha mengungkapkan, tercatat ada 120 warga negara asing yang terdampak. Dari jumlah itu, lanjut dia, sebanyak 119 warga asing sudah diketahui keberadaannya.
Sebagian besar dari mereka sudah keluar dari Palu.
"Hanya satu orang, yaitu warga Korea Selatan, yang sampai saat ini kita belum bisa menghubungi atau mengontak. Tim SAR terus berupaya mencari tahu di mana keberadaan WNA dari Korea Selatan tersebut," tambah Arrmanatha.
Pada Kamis (4/10/2018), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan korban tewas akibat gempa dan tsunami berjumlah 1.424 orang. Sebanyak 2.549 lainnya dirawat di rumah sakit dan 66.238 rumah rusak.
Editor: Nathania Riris Michico