Iran Ancam Lanjutkan Pengayaan Uraniun hingga 90% jika Perang Berlanjut
TEHERAN, iNews.id - Iran mengancam akan melanjutkan pengayaan uranium hingga 90 persen jika militer Amerika Serikat (AS) melanjutkan serangan terhadap negaranya.
Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru yang diajukan Iran untuk mengakhiri perang, termasuk soal program nuklir.
Anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, mengatakan para legislator akan mempertimbangkan untuk membahas pengesahan undang-undang untuk melanjutkan program pengayaan uranium jika perang kembali pecah.
"Salah satu opsi Iran jika terjadi serangan berikutnya, pengayaan hingga 90 persen. Kami akan meninjaunya di parlemen," kata Rezaei, di media sosial X, dikutip Selasa (12/5/2026).
Politisi Demokrat AS Gelar Voting Akhiri Perang Lawan Iran
Sebelumnya Trump mengungkapkan keseriusannya untuk melanjutkan perang di Timur Tengah.
Dalam pernyataan, Trump menuduh Iran bermain-main dengan mengajukan proposal yang disebutnya tak dapat diterima itu.
Memanas! AS Ancam Hancurkan Iran Lebih Brutal Jika Tolak Teken Kesepakatan
"Iran telah mempermainkan Amerika Serikat dan seluruh dunia, selama 47 tahun. Mereka tidak akan tertawa lagi!" tulis Trump di akun Truth Social.
Dalam kesempatan terpisah, Trump melanjutkan komentarnya di platform yang sama, menegaskan penolakannya atas proposal tersebut.
“Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut 'Perwakilan Iran'. Saya tidak menyukainya, sama sekali tidak bisa diterima!" kata Trump.
Sebelumnya AS mengajukan proposal damai yang isinya di antaranya, Iran harus setuju tidak mengembangkan senjata nuklir serta menghentikan seluruh program pengayaan uranium setidaknya selama 12 tahun.
Iran juga diharuskan menyerahkan stok uranium yang diperkaya hingga 60 persen, diperkirakan sebanyak 440 kg.
Sebagai imbalannya, AS secara bertahap akan mencabut sanksi, melepas aset Iran senilai miliaran dolar yang dibekukan, serta menghentikan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran.
Editor: Anton Suhartono