Iran Masukkan Aset Keuangan AS dan Israel dalam Daftar Target, Perang Bisa Meluas
TEHERAN, iNews.id - Iran memperluas daftar target potensial militernya dengan memasukkan seluruh aset berwujud maupun tidak berwujud milik Amerika Serikat (AS) dan Israel. Langkah ini diperintahkan langsung Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei di tengah ancaman pecahnya kembali perang dengan kedua negara.
Mojtaba memerintahkan para komandan militer memperbarui basis data sasaran agar berbagai aset milik musuh dapat dijangkau angkatan bersenjata Iran. Aset tersebut mencakup kepentingan keuangan dan berbagai aset lainnya.
Peringatan itu disampaikan Mojtaba dalam pertemuan dengan jajaran tertinggi militer Iran pada Sabtu (31/10/2026). Pertemuan tersebut menjadi yang pertama kali dilaporkan berlangsung antara Mojtaba dan para komandan utama angkatan bersenjata sejak perang pecah pada 28 Februari 2026.
"Setiap tingkat dan jenis ancaman harus dihadapi dengan respons segera, efektif, dan tanpa batasan geografis," demikian pernyataan Mojtaba, dikutip Senin (2/11/2026)
Dia juga menegaskan, jika AS dan Israel kembali melancarkan serangan militer atau teror, angkatan bersenjata Iran bersama rakyatnya yang akan menentukan kapan dan dalam kondisi seperti apa konflik berakhir.
Ancaman Perang Meluas ke Luar Timur Tengah
Pernyataan Mojtaba mengisyaratkan bahwa potensi pembalasan Iran tidak lagi dibatasi oleh wilayah geografis tertentu. Dengan perluasan daftar sasaran tersebut, aset-aset AS dan Israel di luar kawasan Timur Tengah juga berpotensi masuk dalam perhitungan militer Teheran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi turut memperingatkan bahwa angkatan bersenjata negaranya akan memberikan perlawanan terhadap siapa pun yang berani membahayakan rakyat Iran.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran Mohammad Akraminia bahkan memperingatkan bahwa jika Presiden AS Donald Trump kembali melakukan serangan militer, konflik akan meluas ke wilayah geografis yang jauh lebih besar.
Menurut dia, perang tidak akan berakhir sesuai keinginan Trump. Akraminia mengatakan militer Iran terus meningkatkan kesiapan tempur dan memantau pergerakan pasukan AS.
AS dan Israel Dikabarkan Siapkan Serangan Baru
Ancaman Iran muncul di tengah laporan mengenai kemungkinan serangan baru AS dan Israel. Sejumlah laporan media menyebut Washington dan Tel Aviv mempertimbangkan operasi militer terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS pada 3 November.
Media Israel, The Times of Israel, melaporkan, AS telah memperingatkan negara-negara Teluk mengenai kemungkinan serangan baru terhadap Iran. Operasi itu disebut berpotensi berlangsung singkat, tetapi intensif.
Negara-negara Teluk dilaporkan khawatir serangan baru akan memicu pembalasan Iran, terutama karena sejumlah negara di kawasan tersebut menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.
Sebelumnya, serangan Iran selama perang telah merusak fasilitas militer Amerika di kawasan Timur Tengah. Analisis Associated Press (AP) mencatat lebih dari 115 serangan drone dan rudal Iran atau kelompok yang didukungnya berdampak pada 26 pangkalan dan lokasi militer AS hingga Agustus 2026.
Upaya Diplomatik Cegah Perang Baru
Di tengah meningkatnya ancaman, sejumlah negara masih berupaya mencegah konflik kembali pecah. Qatar mengirim delegasi ke Teheran untuk melakukan pembicaraan dengan pejabat Iran, sementara Pakistan juga terlibat dalam upaya mediasi.
Mesir turut menyuarakan kekhawatiran terhadap kemungkinan eskalasi baru. Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty memperingatkan bahwa perang lanjutan antara AS dan Iran dapat menimbulkan kehancuran yang lebih besar serta berdampak luas terhadap kawasan.
Sementara itu, Iran dilaporkan masih mempertimbangkan jalur diplomasi. Namun, perbedaan tuntutan antara Teheran dan Washington membuat upaya mencapai kesepakatan belum menemukan titik terang.
Editor: Anton Suhartono