Iran Tembak Kapal Tanker di Selat Hormuz, AS Akan Balas
TEHERAN, iNews.id - Iran menembaki kapal tanker di Selat Hormuz yang disebut membawa muatan minyak Qatar. Serangan tersebut memicu respons keras dari Amerika Serikat (AS) yang dilaporkan tengah menyiapkan serangan balasan terhadap sejumlah target militer Iran.
Portal berita Axios, mengutip dua sumber pejabat keamanan AS, melaporkan militer AS akan membalas aksi Iran dengan menggempur beberapa sasaran strategis.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menembakkan sedikitnya dua rudal ke beberapa kapal komersial pada Senin (6/7/2026) malam waktu setempat. Iran menuduh kapal-kapal tersebut melintasi Selat Hormuz tanpa izin atau melalui jalur yang dilarang.
Stasiun televisi pemerintah Iran, dalam laporan di platform media sosial X mengutip sumber pejabat, melaporkan salah satu kapal tanker minyak Qatar berupaya melintasi Selat Hormuz melalui rute Oman dengan pengawalan Angkatan Laut AS. Kapal tersebut kemudian menjadi sasaran serangan setelah disebut mengabaikan peringatan yang telah disampaikan berulang kali.
Laporan tersebut muncul setelah Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mengonfirmasi sebuah kapal tanker diserang di lepas pantai Oman hingga memicu kebakaran.
Insiden itu terjadi sekitar delapan mil laut di sebelah timur Limah.
"Sebuah kapal tanker melaporkan terkena proyektil tak dikenal di sisi kiri yang menyebabkan kebakaran, saat berlayar ke selatan," demikian pernyataan UKMTO, dikutip Selasa (7/7/2026).
Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat meski Iran dan AS telah menandatangani MoU Islamabad yang mengakhiri perang sejak 28 Februari. Namun, kedua negara masih beberapa kali terlibat aksi saling serang, terutama terkait keamanan jalur pelayaran strategis tersebut.
Sebelumnya, IRGC juga menyerang kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz tanpa izin. Aksi itu dibalas AS dengan menggempur sejumlah target militer Iran di kawasan pesisir yang menghadap jalur perairan strategis tersebut.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan terhadap beberapa pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain, sehingga memperpanjang eskalasi konflik di kawasan Teluk.
Editor: Anton Suhartono