Israel Pertanyakan Dewan Perdamaian Gaza Bentukan Trump: Siapa yang Akan Berkuasa?
TEL AVIV, iNews.id - Pembentukan Dewan Perdamaian Gaza oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memicu tanda tanya besar di Israel. Sejumlah pejabat, terutama dari kubu sayap kanan, mempertanyakan siapa sebenarnya yang akan menguasai Jalur Gaza setelah perang jika rencana tersebut dijalankan.
Menteri Urusan Permukiman Israel Orit Strock secara terbuka mengecam Dewan Perdamaian Gaza dan menyebut inisiatif itu sarat masalah.
Menurut dia, rencana tersebut tidak memberikan jawaban jelas mengenai otoritas yang akan memerintah Gaza pasca-operasi militer Israel.
“Jika tentara Israel masuk kembali dan menduduki Gaza, kepada siapa wilayah itu akan diserahkan? Pertanyaan ini tidak pernah dijawab,” kata Strock, dalam wawancara dengan radio Galey Israel, dikutip Selasa (27/1/2026).
Menteri Radikal Israel Tolak Dewan Perdamaian Gaza Bentukan Trump, Serukan Caplok Gaza
Strock menilai Israel tidak boleh mengulangi kesalahan masa lalu. Dia merujuk pada penarikan pasukan Israel dari Gaza pada 2005 yang disertai pembongkaran permukiman Yahudi, namun menurutnya justru berujung pada meningkatnya ancaman keamanan.
“Kita sudah menyerahkan Gaza sebelumnya. Kita tahu bagaimana hasilnya,” ujarnya, merujuk pada pengambilalihan wilayah tersebut oleh Hamas setelah penarikan Israel.
Detik-Detik Helikopter Militer Black Hawk Israel Jatuh di Bethlehem
Pejabat sayap kanan radikal itu juga menolak kemungkinan penyerahan kendali Gaza kepada Otoritas Palestina atau komite teknokrat Palestina yang disebut-sebut akan mengelola wilayah tersebut pasca-perang. Menurut dia, langkah itu hanya akan membahayakan tentara Israel yang telah dikirim bertempur.
“Saya tidak bisa membayangkan seorang menteri di Kabinet Keamanan yang mengirim tentara berperang, lalu menyerahkan Gaza kepada pihak lain,” ujarnya.
Dalam pandangannya, Israel harus tetap menjadi satu-satunya otoritas di Gaza setelah wilayah itu dilucuti dari senjata dan Hamas dikalahkan. Dia bahkan menyerukan pencaplokan Jalur Gaza sepenuhnya sebagai solusi paling realistis menurut kelompok sayap kanan Israel.