Italia Tampung 147 Pengungsi yang Diterbangkan dari Libya
ROMA, iNews.id - Sebanyak 147 pengungsi diselamatkan dari kota di Libya, Misrata, dan diterbangkan ke bandara militer Italia di dekat Roma, Senin (30/4/2019). 147 orang itu akan tinggal di Italia.
Kementerian Dalam Negeri Italia menyatakan, kelompok itu termasuk 68 anak di bawah umur. Bayi dan balita dapat terlihat di antara mereka yang turun dari pesawat di bandara militer Pratica di Mare pada Senin sore waktu setempat.
"Evakuasi ini adalah jalur vital bagi orang-orang yang menghadapi ancaman serius dan bahaya di dalam Libya," kata Filippo Grandi, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, seperti dilaporkan AFP, Selasa (30/4/2019).
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Matteo Salvini, dari partai Liga sayap kanan, mengatakan para pengungsi yang tiba di Italia melarikan diri dari perang.
"Pelabuhan Italia sebagian besar terbuka untuk para perempuan dan anak-anak, untuk orang-orang muda yang benar-benar melarikan diri dari perang."
Namun dia menekankan bahwa Italia tidak terbuka untuk "pedagang manusia" serta kapal-kapal yang tidak layak yang digunakan untuk menyelendupkan orang ke negara itu.
Kementerian dalam negeri menyatakan, mereka yang ditampung pada Senin kemarin itu antara lain 69 warga Eritrea, 62 warga Somalia, enam warga Sudan, lima warga Suriah, dan lima warga Ethiopia.
Libya terperosok dalam kekacauan sejak pemberontakan yang didukung NATO yang menggulingkan hingga membunuh diktator Moamer Kadhafi pada 2011.
Italia menjadi negara pertama yang melangkah maju untuk menerima pengungsi dari Libya sejak kerusuhan kembali mencuat baru-baru ini di negara itu.
"Sekarang penting bagi negara-negara lain untuk menawarkan tempat-tempat evakuasi serupa bagi para pengungsi yang terjebak dalam konflik. Memejamkan mata akan memiliki konsekuensi nyata dan tragis," kata Grandi.
"Ribuan pengungsi dan imigran terus ditahan di pusat-pusat penahanan, di mana bahkan sebelum bentrokan baru-baru ini mereka menghadapi kondisi yang mengerikan dan jorok," kata badan itu.
"Lebih dari 3.300 orang khususnya berisiko di dalam pusat-pusat penahanan yang dekat dengan bentrokan yang akan segera terjadi," tambah badan pengungsi itu.
Editor: Nathania Riris Michico