Jerman Buka Jurusan Studi Master di Bidang 'Spionase'
BERLIN, iNews.id - Mata-mata di layar perak yang paling terkenal, 007, hanya mengecap pendidikan dua semester di sekolah elit Eton. Dia mengejar para penjahat dalam 25 film dengan bantuan mobil-mobil mewah dan senjata andalannya Walther PKK.
Selain itu tentu saja berbagai alat bantu yang diciptakan "Q".
Namun, kuliah yang ditawarkan di jurusan "Master in Intelligence and Securities Studies (MISS)" di Jerman tidak membahas atau mengajarkan ketrampilan mengemudi atau menggunakan senjata.
"Ini bukan pendidikan untuk menjadi spion, tidak pelajaran kejar-kejaran dengan mobil, juga tidak ada pelatihan untuk meloncat dari atap ke atap," kata Professor Uwe Borghoff, seperti dilaporkan Deutsche Welle, Selasa (2/7/2019).
Dia adalah guru besar di universitas militer milik angkatan bersenjata Jerman Bundeswehr di Munchen. Dan dia akan memimpin jurusan MISS bersama rekannya Jan-Hendrik Dietrich di Universitas Bundeswehr.
Para mahasiswa akan mengikuti kuliah di pusat pendidikan militer di Munchen, Berlin, dan Bruhl dengan materi tentang etika, dasar-dasar hukum spionase dan analisa politik. Jurusan kuliah semacam ini sudah ada di beberapa negara, tapi di Jerman dibuka untuk pertama kali.
"Bagi saya, ini jurusan yang sangat menegangkan, karena memang benar-benar baru di Jerman," kata Borghoff.
Mata kuliah yang ditawarkan misalnya 'Penelitian Terorisme', 'Komunikasi dan Manajemen Dinas Rahasia', serta 'Cyber Defense'. Program master akan berlangsung selama 2 tahun.
Di akhir program kuliah, peserta harus menyusun skripsi yang mencakup sekitar 100 halaman.
Namun tidak orang sembarangan yang bisa belajar di jurusan ini. Kuliah hanya bisa diikuti oleh anggota lembaga intelijen, baik di tingkat federal maupun tingkat negara bagian, termasuk intelijen militer.
"Memang warga sipil tidak bisa ikut kuliah ini," ujar Borghoff.
Pasalnya, untuk masuk ke gedung kuliah di Berlin saja, peserta harus punya otorisasi khusus.
"Dan untuk modul-modul tertentu, para peserta akan dikonfrontasikan dengan bahan-bahan pelajaran yang bersifat rahasia," lanjutnya.
Selain itu, ada seleksi ketat. Sistem seleksinya tidak berdasarkan pada nilai ijazah atau ranking yang dimiliki calon mahasiswa. Pesertanya akan diseleksi oleh sebuah komisi khusus, yang terdiri dari para pejabat lembaga negara yang terkait kegiatan intelijen.
Juru bicara Universitas Bundeswehr mengatakan, untuk angkatan pertama tercatat ada 35 mahasiswa. Namun dia menolak merinci dari lembaga mana saja para mahasiswa berasal.
Lalu bagaimana dengan komposisi lelaki dan perempuan? Borhoff tidak bisa menyebutkan jumlahnya, namun dia mengatakan, jumlah peserta perempuan memang masih sedikit.
Editor: Nathania Riris Michico