Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Polri Pakai Pendekatan Baru Tangani Unjuk Rasa, Tiru Inggris
Advertisement . Scroll to see content

Kisah Gadis Tuli Bisa Bicara 'Aku Sayang Papa' Setelah Operasi Otak

Rabu, 24 April 2019 - 07:25:00 WIB
Kisah Gadis Tuli Bisa Bicara 'Aku Sayang Papa' Setelah Operasi Otak
Leia bersama orang tuanya, Bob dan Alison, serta adiknya Jacob. (FOTO: GUY’S AND ST THOMAS’ NHS)
Advertisement . Scroll to see content

LONDON, iNews.id - Leia Armitage (7) hidup dalam kesunyian dalam dua tahun pertama kehidupannya. Namun, berkat teknik operasi terbaru dan terapi selama bertahun-tahun, akhirnya dia bisa berbicara kepada orangtuanya.

"Dulu kami diberi tahu kalau ada bom di belakangnya, dia tidak akan bisa mendengar bom itu meledak," kata ayah Leia, Bob, mengingat saat ketika dia mengetahui bayi perempuannya mengalami tuli total yang langka.

Leia, dari Dagenham di London Timur, tidak memiliki telinga dalam atau saraf pendengaran. Ini artinya, alat bantu dengar standar atau implan koklea tidak bisa membantunya berbicara dan mendengar.

Bagaimanapun, orangtuanya berjuang agar dia menjadi salah satu anak pertama di Inggris yang diberi implan batang otak pendengaran, yang membutuhkan operasi otak yang rumit ketika dia berusia dua tahun.

Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) menyebut operasi itu benar-benar mengubah hidup. NHS juga menyebut operasi tersebut mendanai implan untuk anak-anak tuli lainnya dalam situasi yang sama.

Diperkirakan sekitar 15 anak per tahun akan ditinjau untuk prosedur ini dan sembilan di antara mereka akan lolos untuk menjalani operasi.

Bob mengaku bahwa memilih operasi otak seperti ini untuk Leia adalah keputusan besar bagi mereka.

"Tapi kami ingin memberi Leia kesempatan terbaik dalam hidup," ujar dia, seperti dilaporkan BBC.

Dia dan istrinya, Alison, berharap bahwa setelah operasi di Guy's and St Thomas' NHS Foundation Trust, Leia akan mampu mendengar beberapa hal, seperti bunyi klakson mobil saat dia menyeberang jalan sehingga hidupnya lebih aman.

Leia menjalani terapi untuk menggunakan implan pendengarannya setelah melalui operasi yang rumit. (FOTO: GUY’S AND ST THOMAS’ NHS)

Namun, lima tahun setelah operasi, kemajuan Leia lebih besar dari yang mereka harapkan.

Kemajuan tersebut dimulai perlahan. Sesaat setelah operasi, Leia menoleh ke arah bunyi pintu kereta api yang tertutup.

Sedikit demi sedikit, gadis itu mulai memahami konsep bunyi seiring orangtuanya terus-menerus mengulangi kata-kata, memintanya untuk meniru bunyinya.

Sekarang, setelah berkali-kali berbicara dan menjalani terapi bahasa, Leia bisa menggabungkan kata-kata menjadi satu kalimat utuh, berusaha bernyanyi dengan musik, dan mendengarkan suara di telepon.

"Kami bisa memanggilnya dari bawah ketika dia sedang berada di lantai atas, dan dia akan mendengarnya," Bob menjelaskan.

Namun di sekolah biasa, di dalam kelas dengan anak-anak berpendengaran normal, Leia benar-benar menunjukkan kemajuan berkat para asisten yang menggunakan bahasa isyarat dan memberinya banyak waktu untuk pertemuan empat mata.

"Leia semakin cekatan, dan dia tidak ketinggalan jauh dari anak seusianya dalam banyak hal," kata Bob.

Di rumah, suara Leia adalah hal yang paling menyenangkan orangtuanya.

"'Aku sayang Papa' mungkin adalah hal terbaik yang pernah saya dengar darinya," ujar Bob.

"Ketika saya membawanya ke tempat tidur, dia kini berkata 'selamat malam, Mama', yang tidak pernah saya sangka akan bisa saya dengar," kata Alison.

Teknik operasi mutakhir yang dijalani Leia melibatkan sebuah perangkat yang dimasukkan secara langsung ke otak untuk merangsang jalur pendengaran pada anak-anak yang lahir tanpa koklea atau saraf pendengaran.

Unit mikrofon dan pengolah suara yang dikenakan di sisi kepala kemudian mentransmisikan suara ke implan tersebut.

Stimulasi listrik ini bisa memberikan sensasi pendengaran, tetapi belum tentu bisa mengembalikan pendengaran yang normal.

Namun, Profesor Dan Jiang, konsultan otologis dan direktur klinis Pusat Implan Pendengaran di NHS Foundation Trust, berkata bahwa beberapa anak bisa mengembangkan tingkat kemampuan berbicara.

"Hasilnya bervariasi. Beberapa akan mendapat hasil yang lebih baik daripada yang lain," ujarnya.

"Mereka harus beradaptasi, dan anak-anak yang lebih muda hasilnya lebih baik, sehingga kami ingin memasukkan implan di usia yang lebih awal jika memungkinkan."

"Anak-anak balita berada dalam kondisi yang sangat cocok untuk mempelajari konsep-konsep baru tentang suara dan merespons terapi intensif," katanya.

"Setiap anak tuli berbeda dan bagi beberapa orang, teknologi seperti implan batang otak pendengaran bisa menjadi pilihan yang tepat dan dapat memberi perbedaan besar dalam hidup mereka. Dengan dukungan yang tepat, anak-anak disabilitas rungu bisa berprestasi sebaik rekan-rekan mereka yang bisa mendengar, dan investasi ini merupakan langkah penting menuju masyarakat di mana tidak ada anak tuli yang tertinggal," kata kepala eksekutif National Deaf Children's Society, Susan Daniels.

Editor: Nathania Riris Michico

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut