Kisah Kekecewaan Pangeran Henrik Tak Bisa Menjadi Raja di Denmark
STOCKHOLM, iNews.id - Pangeran Henrik, suami dari Ratu Margrethe II asal Denmark, meninggal dunia di Istana Fredensborg, Selasa 13 Februari 2018 malam, di usia 83 tahun. Dia meninggal dikelilingi oleh istri dan kedua putranya.
"Yang Mulia Pangeran Henrik meninggal Selasa, 13 Februari pukul 23.18 di Istana Fredensborg," demikian pernyataan pihak Istana yang disampaikan pada Rabu (14/2/2018), dikutip dari AFP.
Pihak Istana, Selasa kemarin, menyampaikan Pangeran Henrik kembali ke rumah untuk menghabiskan hari-hari terakhirnya setelah dirawat di rumah sakit sejak 28 Januari karena infeksi paru-paru. Dia didiagnosis menderita demensia pada September 2017.
Pria pemilik nama asli Henri Marie Jean Andre de Laborde de Monpezat itu lahir pada 11 Juni 1934 di Talence, dekat Bordeaux. Dia menikahi Margrethe, pewaris takhta Denmark, pada Juni 1967. Pasangan ini dikaruniai dua anak, yakni Putra Mahkota Frederik (49) dan Pangeran Joachim (48).
Pangeran Henrik pensiun dari tugas kerajaan pada 2016.
Margrethe dinobatkan sebagai Ratu pada Januari 1972, tapi Henrik tidak bisa menyembunyikan kekecewaan lantaran gelar bangsawannya tidak pernah berubah menjadi Raja.
Pangeran Henrik dan Ratu Margrethe II (Foto: Doc. Royal Correspondent)
Rasa kekecewaannya juga diungkapkan pada Agustus 2017 dengan tidak ingin dimakamkan di samping istrinya, Ratu Margrethe II, karena dia tidak dibuat setara.
"Jika dia ingin mengubur saya bersamanya, dia harus menjadikan saya seorang raja," kata Henrik, saat itu.
Pasangan kerajaan di Denmark biasanya dimakamkan berdampingan di Katedral Roskilde, sebelah barat Kopenhagen. Namun, pihak Istana belum mengungkapkan di mana sang pangeran akan dimakamkan.
Dilaporkan People, dalam beberapa tahun terakhir, sang pangeran menjadi berita utama karena kecewa tak pernah diangkat menjadi Raja. Menikah dengan Ratu Margrethe II, Henrik tetap bergelar pangeran.
Henrik berpikir hal tersebut tidak adil. Dia bahkan mengaitkannya dengan diskriminasi gender sehingga tak bisa menjadi raja.
"Istri saya telah memutuskan dia ingin menjadi Ratu, dan saya sangat senang dengan itu. Tapi sebagai pribadi, dia harus tahu bahwa jika seorang laki-laki dan perempuan sudah menikah, maka mereka sama. Istri saya belum menunjukkan rasa hormat seperti seharusnya seorang istri kepada pasangannya," ungkap Henrik, pada 2017.
Dia juga mengatakan, istrinya membuatnya terlihat seperti orang bodoh dengan tidak memberikan gelar Raja.
"Dia yang membuatku bodoh. Saya tidak menikahi Sang Ratu untuk dikuburkan di Roskilde," ujar Henrik.
Usai menikahi Margrethe pada 1967, dia mengganti namanya menjadi Henrik Denmark, bukan Henri lagi. Henrik pernah bertugas di Angkatan Darat Prancis dalam Perang Alingan serta bekerja untuk Kementerian Luar Negeri Prancis, di Kedutaan Besar Prancis di London.
Editor: Anton Suhartono