Konflik Memanas, Houthi Terapkan Blokade Laut Arab Saudi
KAIRO, iNews.id - Kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi mulai Senin (20/7/2026). Langkah ini dinilai membuka front baru dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran, sekaligus memperbesar ancaman terhadap pasokan energi serta perdagangan global di luar kawasan Teluk.
Melansir Reuters, Iran sebelumnya mendesak Houthi untuk menutup Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah, jika AS terus melancarkan serangan terhadap infrastruktur penting Iran.
Dalam pernyataannya, angkatan bersenjata Houthi menyatakan memberlakukan embargo maritim terhadap Arab Saudi dengan mengusung prinsip mata ganti mata yang berlaku efektif segera.
Houthi mengatakan, keputusan tersebut diambil sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai pengepungan yang tidak adil dan menindas yang dilakukan Arab Saudi terhadap Yaman.
Hingga berita ini ditulis, pemerintah Arab Saudi belum merespons atas pengumuman tersebut.
Jika Selat Bab el-Mandeb ditutup sepenuhnya, pasokan minyak global diperkirakan akan berkurang sekitar 7 persen karena sebagian besar ekspor minyak Arab Saudi tidak dapat keluar dari kawasan tersebut. Gangguan itu juga akan memperburuk penurunan pasokan minyak dunia yang telah terjadi akibat perang di kawasan Teluk, yang sejauh ini memangkas sekitar 10 persen pengiriman minyak global.
Pengumuman Houthi muncul di tengah sinyal dari Iran dan AS yang sama-sama menunjukkan keinginan untuk kembali menempuh jalur diplomatik guna menghentikan eskalasi serangan yang nyaris menggagalkan kesepakatan sementara yang ditandatangani bulan lalu.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan bahwa Teheran telah menerima usulan dari sejumlah mediator mengenai gencatan senjata selama 10 hari sebagai upaya menyelamatkan perjanjian sementara tersebut.
Kesepakatan itu diharapkan menjadi jalan menuju perdamaian yang lebih permanen dalam perang yang dimulai pada 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Harga minyak dunia sempat melonjak hingga menembus 90 dolar AS per barel pada perdagangan hari ini setelah kembali terjadi gangguan terhadap pelayaran melalui Selat Hormuz.
Namun, kenaikan tersebut berangsur mereda setelah Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan para mediator baru-baru ini telah menyampaikan sejumlah proposal kepada Teheran, yang mengindikasikan komunikasi diplomatik masih terus berlangsung.
Di sisi lain, dua sumber pemerintah Pakistan mengungkapkan bahwa Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni, yang melakukan kunjungan keduanya ke Islamabad dalam kurun waktu kurang dari sepekan, meminta Pakistan kembali berperan sebagai mediator dalam konflik antara Iran dan AS.
Rangkaian upaya diplomatik itu berlangsung setelah Garda Revolusi Iran mengklaim telah melancarkan serangan terhadap aset-aset militer AS di berbagai wilayah menyusul gelombang terbaru pemboman Negeri Paman Sam terhadap sejumlah kota di Iran.
Editor: Aditya Pratama