Kontroversial, Nicolas Maduro Terpilih Lagi sebagai Presiden Venezuela
KARAKAS, iNews.id - Pemimpin sayap kiri Nicolas Maduro secara mengejutkan memenangkan kembali masa jabatan enam tahun sebagai presiden dalam pemilihan umum (pemilu), Minggu (20/5) waktu setempat. Maduro memuji kemenangannya ini sebagai catatan bersejarah.
Saat berpidato di depan ribuan pendukung di luar Istana Miraflores, Maduro menyebut kemenangannya merupakan hal paling membanggakan.
"Belum pernah ada calon presiden yang mengambil 68 persen suara rakyat. Kita menang lagi! Kita menang lagi! Kita merupakan kekuatan sejarah yang berubah menjadi kemenangan paling terkenal," kata Maduro, seperti dilaporkan AFP, Senin (21/5/2018).
Maduro berhasil memperoleh 67,7 persen suara. Di posisi kedua, lawan Maduro, Henri Falcon, memperoleh 21,2 persen suara. Sedangkan di posisi ketiga ada Javier Bertucci, pengkhotbah evangelis yang mendapat sekitar 11 persen suara.
Falcon menolak hasil tersebut dan menganggap pemilu tidak sah. Dia meminta pemungutan suara ulang pada akhir tahun.
"Kami tidak mengakui proses pemilihan ini sah dan benar. Bagi kami, tidak ada pemilihan. Kami harus mengadakan pemilihan baru di Venezuela," kata Falcon, sebelum hasil pemilu diumumkan.
Terguncang di bawah krisis ekonomi, hanya 46 persen pemilih yang memberikan suara mereka dalam pemilu. Bahkan pemilu Venezuela kali ini sarat akan kecaman dari komunitas internasional dan sempat diboikot oleh oposisi.
Ratusan warga negara Venezuela turun ke jalan-jalan di beberapa kota di dunia, di antaranya Bogota, Buenos Aires, Lima, serta Madrid, menuntut pembatalan hasil pemilu. Protes terbesar terjadi di Kota Santiago, di mana lebih dari 1.000 demonstran, baik warga Venezuela maupun Cile, menentang pemilu.
Pemerintah Cile menolak hasil tersebut dengan menyebutnya tidak memiliki legitimasi karena tak memenuhi persyaratan minimum untuk dijadikan sebagai patokan pemilu demokratis dan transparan, sesuai standar internasional.
Namun, Maduro tetap dinyatakan terpilih memimpin Venezuela untuk periode kedua atau hingga 2025.
Maduro merupakan pewaris politik dari tokoh sayap kiri Hugo Chavez. Dia memimpin negara kaya minyak itu sejak 2013.
Namun inflasi berlebihan, kurangnya makanan dan obat-obatan, meningkatnya kejahatan, kerusakan fasilitas air besih dan jaringan listrik, serta transportasi memicu kerusuhan. Menyebakan Maduro mendapat rating penolakan sebesar 75 persen.
Ratusan ribu warga Venezuela melarikan diri dari dalam eksodus massal selama beberapa tahun terakhir.
Editor: Nathania Riris Michico