Korban Tewas Banjir Nepal-China Nyaris 1.300 Orang, 5.000 Lebih Masih Hilang
BEIJING, iNews.id - Jumlah korban tewas akibat banjir bandang disertai tanah longsor di Nepal dan China bertambah menjadi nyaris 1.300 orang hingga Jumat (4/9/2026). Otoritas China melaporkan tambahan 10 korban tewas menjadi 31 orang.
Media pemerintah China juga melaporkan, 531 orang masih hilang akibat bencana dahsyat di perbatasa kedua negara tersebut.
"Hingga pukul 18.00 pada 4 September, bencana tersebut telah mengakibatkan 31 kematian dan 531 orang belum ditemukan," demikian laporan Xinhua.
China bekerja keras menjangkau pos perbatasan Gyirong yang diterjang banjir serta ditimbun longsor. Otoritas mengerahkan ratusan alat berat untuk membuka satu-satunya jalan akses menuju pos perbatasan yang lenyap diterjang material banjir seperti bebatuan dan pepohonan.
Sebagian besar korban hilang diduga masih terjebak di bangunan pos perbatasan yang berada di wilayah otonomi Tibet itu atau hanyut memasuki wilayah Nepal.
Sementara itu dua pekerja dievakuasi dalam keadaan selamat, Jumat kemarin, setelah terjebak 9 hari di terowongan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Nepal.
Tim SAR internasional memilih terowongan proyek PLTA Trishuli 3A sebagai fokus operasi karena ratusan pekerja terjebak di dalam terowongan dalam tersebut.
Setidaknya 42 pekerja bisa diselamatkan dari terowongan setelah tim SAR mendengar suara teriakan pada Jumat pagi.
Banjir bandang disertai tanah longsor menghancurkan Distrik Rasuwa, Nuwakot, Dhading, dan Kavre di Nepal, serta Lembah Kathmandu.
Korban tewas di Nepal mencapai 1.259 orang dan 5.083 lainnya hilang.
Dengan demikian jumlah total korban tewas akibat banjir pada 26 Agustus lalu mencapai 1.290 orang dan 5.614 lainnya hilang, termasuk 844 warga asing.
Editor: Anton Suhartono