Korea Utara Sebut Artis K-Pop Produk 'Perbudakan'
PYONGYANG, iNews.id – Korea Utara kembali melancarkan serangan pedas terhadap industri musik K-pop milik negara tetangga, Korea Selatan, dengan menyebutnya sebagai bentuk “perbudakan”. Pernyataan tersebut dilontarkan negara komunis itu dalam upaya baru yang disebut gerakan melawan pengaruh asing.
Sebagai upaya untuk membuat orang-orang tak menyukai K-pop, salah satu situs propaganda milik rezim pemimpin Kim Jong Un menggambarkan para artis K-pop telah terikat kontrak sejak usia dini dan “ditahan” melalui pelatihan (training) keartisan.
Hal itu, kata situs tersebut, membuat grup musik terlaris Korea Selatan seperti BTS dan Blackpink menjadi “budak” karena tubuh, pikiran, dan jiwa para personelnya dirampas oleh kepala konglomerat di dunia hiburan yang kejam dan korup di negara itu.
Seperti diketahui, grup musik asal Korea Selatan saat ini sedang menduduki puncak popularitasnya di industri hiburan dunia. Hal itu yang membuat Kim Jong Un semakin khawatir rakyatnya mengonsumsi film, musik, buku, dan produksi TV negara tetangga.
Demi membentengi hal itu, Pemerintah Korut memberlakukan sensor ketat terhadap berbagai materi terlarang. Seperti disampaikan Keith Howard, seorang peneliti dan etnomusikolog dari SOAS University of London.
“Satu-satunya perusahaan rekaman di Korea Utara hanyalah milik pemerintah, dan tidak ada pertunjukan yang diizinkan di luar kendali rezim. Siapapun tidak memiliki hak untuk membuat lirik lagu baru, dan jika melakukannya maka mendapat masalah,” kata Howard, dikutip Mirror, Kamis (18/3/2021).
Pernyataan itu memperparah ketegangan yang semakin meningkat antara kedua negara. Tak hanya terhadap negara tetangga, pemerintah Korea Utara melalui saudara perempuan Kim Jong Un, Kim Yo Jong, baru-baru ini mengeluarkan peringatan kepada Presiden AS Joe Biden agar tidak menyebar ‘bau busuk’ jika menginginkan perdamaian.
Editor: Ahmad Islamy Jamil