KUALA LUMPUR, iNews.id - Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menegaskan tak akan meninggalkan dunia politik meski usianya menginjak 97 tahun. Penegasan itu disampaikan untuk merespons pernyataan seorang ekonom yang menyarankan dirinya menjadi bapak bangsa, ketimbang politikus.
Pria yang menjabat perdana menteri Malaysia dua kali itu mengatakan akan tetap terjun di politik perannya masih dibutuhkan oleh masyarakat.
Bisa Dipenjara 5 Tahun, Pantas Tak Ada yang Posting Video Situs Militer Israel Dirudal Iran
Mahathir menegaskan tidak bisa menolak ada beberapa pihak meminta bantuan atau sarannya demi kebaikan negara.
“Demi cinta tanah air, kalau ada yang datang dan minta bantuan, saya tidak bisa bilang, maaf saya tidak bisa bantu karena saya ingin istirahat. Saya masih punya banyak ide dan (jika diminta) saya siap berbagi,” katanya, dikutip dari The Star, Selasa (27/3/2023).
Makin Panas! Giliran Najib Razak Sebut Mahathir Mohamad Diktator
Sebelumnya media Malaysia mengutip pernyataan ekonom kenamaan Jomo Kwame Sundaram yang meminta Mahathir berhenti berpolitik. Mahathir mengatakan itu sebagai pendapat pribadi Jomo.
Dalam kesempatan yang sama, Mahathir mengatakan telah mengirim surat kepada Anwar Ibrahim berdisi desakan agar seteru politiknya itu menarik pernyataan sekaligus meminta maaf.
Belum Mau Pensiun dari Politik, Mahathir Mohamad Gabung Partai Guram
Mahathir tak terima dengan pidato Anwar di Kongres Nasional Partai keadilan Rakyat (PKR) pada 18 Maret.
“Meskipun Perdana Menteri tidak menyebut nama saya dalam pidatonya, jelas dia merujuk kepada saya. Siapa lagi yang memimpin negara ini selama 22 tahun ditambah 22 bulan sebagai perdana menteri," ujarnya.
Komentari Pidato Raja Malaysia, Mahathir Tak Terima Disalahkan karena Mundur sebagai PM
Mahathir bahkan mempertimbangkan akan mengambil tindakan hukum jika Anwar tak merespons permintaan tersebut.
Mahathir Mohamad Masih Bingung Kenapa Kalah Pemilu Malaysia: Apa Salah Saya?
Dia memberi waktu kepada Anwar 7 hari, terhitung sejak Selasa(28/3/2023), untuk merespons permintaan tersebut.
Tuduhan Mahathir merujuk pada pidato Anwar, yakni "Seseorang setelah 22 tahun 22 bulan berkuasa, meratapi bahwa orang Melayu telah kehilangan segalanya. (Merebut) Semuanya untuk keluarga dan anak-anak Anda. Sekarang ketika Anda kehilangan kekuasaan, Anda ingin bicara tentang banyak orang."
Menurut Mahathir, jelas bahwa sosok yang disebut Anwar dalam pidato adalah dirinya.
Editor: Anton Suhartono