Malaysia Selidiki Kebocoran Data 46 Juta Pengguna Telepon Genggam

Raras Mita Pangesti ยท Rabu, 01 November 2017 - 20:04 WIB
Malaysia Selidiki Kebocoran Data 46 Juta Pengguna Telepon Genggam

Ilustrasi (Foto: Reuters)

KUALA LUMPUR, iNews.idMalaysia menyelidiki kasus penjualan data secara online melibatkan 46,2 juta juta pengguna telepon genggam. Ini merupakan salah satu kebocoran data terbesar yang terjadi di Asia.

Peretasan data secara massal ini memberikan pengaruh besar pada hampir seluruh warga Malaysia. Kejadian ini pertama kali diberitakan oleh Lowyat.net, sebuah situs berita teknologi Malaysia. Situs berita itu melaporkan seseorang mencoba menjual database berisi informasi pribadi dalam jumlah besar melalui forum gelap.

"Diskusi yang berlangsung dalam forum gelap itu menunjukkan minat yang sangat besar. Kami terus mendesak telco dan perusahaan lain untuk waspada dan mulai mengganti SIM card para konsumen, terutama mereka yang tidak pernah mengganti SIM card-nya sejak 2014," demikian laporan Lowyat.net.

Menteri Komunikasi dan Multimedia Malaysia Saleh Said Keruak mengatakan, Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC)) sedang menyelidiki kasus ini bekerja sama dengan kepolisian. “Kami sudah mengidentifikasi beberapa sumber potensi kebocoran dan kami harus bisa menyelesaikan penyeledikan secepat mungkin," ungkapnya.

Data yang bocor termasuk daftar nomor telefon, nomor identitas, alamat rumah, serta data di kartu SIM. Ada 46,2 juta pelanggan yang diretas datanya teleponnya. Jumlah itu berasal dari 12 provider di Malaysia.

Peneliti keamanan siber dari Singapura yang menolak menyebutkan identitasnya menjelaskan data yang bocor ini sangat mungkin dimanfaatkan para pelaku kejahatan untuk membuat identitas palsu dalam melakukan belanja online.

Database yang bocor dijual di beberapa forum gelap, untuk 1 bitcoin dijual seharga USD6.500. Setidaknya ada satu orang yang menggugah link sehingga data tersebut bisa diunduh secara gratis. Dia melihat setidaknya 10 orang yang berada dalam forum gelap mengunduh data tersebut sebelum dihapus kembali.

Senada dengan peneliti asal Singapura, Bryce Boland, kepala FireEye teknologi Asia Pasifik mengatakan, jika data itu tersedia secara bebas maka dapat digunakan untuk penipuan. "Semua warga Malaysia pasti akan terkena efek dari kebocoran data ini," ungkapnya.

Populasi penduduk Malaysia sejumlah 32 juta, tetapi banyak penduduk yang memiliki nomor telepon lebih dari satu. Menurut laporan The Star, nomor tidak aktif dan nomor sementara yang dimiliki warga asing masuk dalam daftar tersebut.

Menurut Lowyat.net, data yang beredar juga berisi informasi pribadi milik lebih dari 80 ribu orang yang dicuri dari Dewan Medis Malaysia, Asosiasi Medis Malaysia, dan Asosiasi Dokter Gigi Malaysia.


Editor : Anton Suhartono