Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Istana Siap Dialog dengan MUI, Bahas Keterlibatan RI di Dewan Perdamaian Gaza
Advertisement . Scroll to see content

Marah, Warga Israel di Perbatasan Gaza Tak Terima Gencatan Senjata

Selasa, 07 Mei 2019 - 12:08:00 WIB
Marah, Warga Israel di Perbatasan Gaza Tak Terima Gencatan Senjata
Sisa-sisa bangunan di Gaza City setelah dihantam serangan udara Israel, 5 Mei 2019. (FOTO: AFP)
Advertisement . Scroll to see content

GAZA CITY, iNews.id - Tentara Israel dan kelompok militan Hamas melakukan gencatan senjata pada Senin (6/5) setelah terlibat saling serang sejak Sabtu (4/5) lalu. Namun, warga Israel yang tinggal di wilayah yang dekat dengan perbatasan Gaza tidak terima dengan gencatan senjata.

Warga Israel yang tinggal di kota-kota dan desa-desa yang wilayahnya sangat dekat dengan perbatasan Gaza marah dengan gencatan senjata yang disepakati tentara Israel. Mereka mengaku lelah jika harus kembali lari menyelamatkan diri ke tempat penampungan saat Hamas kembali menyerang dengan roket.

"Dalam sebulan, dalam dua pekan, dalam satu setengah bulan, semuanya akan terjadi lagi, kami tidak mencapai apa-apa. Saya pikir Israel perlu menyerang mereka dengan sangat, sangat keras sehingga mereka dapat mempelajari pelajaran mereka," kata Haim Cohen (69), seorang pensiunan tukang listrik dari kota pesisir Ashdod, yang jaraknya 15 mil (25 km) dari utara Jalur Gaza, seperti dilaporkan Reuters, Senin (6/5/2019).

Sementara itu, tak jauh dari lokasi tempat tinggal Haim, tampak petugas kebersihan membersihkan puing-puing rumah salah seorang warga Israel yang porak poranda akibat diterjang roket Hamas.

Warga yang tinggal di rumah itu juga ikut terbunuh oleh roket Hamas saat sedang lari mencari perlindungan. Warga yang tewas itu merupakan satu dari empat orang Israel yang terbunuh dalam serangan roket Hamas sejak Sabtu (4/5) lalu.

Kelompok Islam Hamas menguasai Gaza sejak 2007 silam, tepatnya dua tahun setelah Israel menarik pasukan dan permukiman warganya dari jalur Gaza yang merupakan daerah kantong kecil Palestina. Sejak saat itu pula Israel dan Hamas mengobarkan tiga perang besar dan beberapa kali saling serang.

Atas dasar serangan Hamas yang dapat menjadi ancaman kapan saja, beberapa warga Israel yang tinggal dekat dengan perbatasan Gaza tak setuju pemerintah mereka melakukan gencatan senjata dengan Hamas.

"Saya ingin pemerintah membuat Hamas terlalu takut untuk meluncurkan roket kepada kami," lanjut Ofer.

Hal senada juga diungkapkan Jack Mandel (57) yang tidak terima Israel melakukan gencatan senjata dengan Hamas.

"Saya pikir gencatan senjata adalah kesalahan. Anda tidak melakukan gencatan senjata dengan organisasi teroris. Jika siklus ini tidak selesai dengan baik dan jika Gaza tidak dibersihkan dari para teroris ini maka tidak ada yang akan membantu," kata Jack.

Hal senada juga diungkapkan Meirav Kohan (46), warga Ein Hashlosha, Israel, yang wilayahnya hanya berjarak sekitar satu setengah mil dari Gaza. Meirav mengaku kaget dan kecewa dengan gencatan senjata.

"Ini adalah perang gesekan dan pemerintah tidak mencari solusi jangka panjang untuk membawa kita kedamaian. Tidak ada kebijakan. Kami hanya bidak dalam permainan," katanya.

Israel dan Hamas terlibat saling serang sejak Sabtu (4/5) lalu dan menjadi eskalasi paling serius sejak perang 2014, walaupun gencatan senjata sempat disepakati pada bulan lalu.

Kekerasan berawal pada Jumat (3/5), saat aksi demo warga Palestina di Gaza untuk memprotes penerapan blokade di wilayah tersebut. Seorang pria bersenjata Palestina menembak dan melukai dua tentara Israel di dekat tembok perbatasan.

Israel membalasnya dengan melancarkan serangan udara yang menewaskan dua militan Hamas. Hamas juga langsung merespons serangan Israel tersebut dengan menembakkan berbagai roket ke Israel.

Editor: Nathania Riris Michico

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut