Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Situasi Timur Tengah Memanas! Houthi Blokade Jalur Maritim Arab Saudi
Advertisement . Scroll to see content

Mengapa Blokade Houthi terhadap Arab Saudi Bisa Kacaukan Pasokan Minyak Dunia?

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:27:00 WIB
Mengapa Blokade Houthi terhadap Arab Saudi Bisa Kacaukan Pasokan Minyak Dunia?
Blokade maritim kelompok Houthi terhadap Arab Saudi berpotensi memicu guncangan besar di pasar energi global (Grafis: iNews.id/AI)
Advertisement . Scroll to see content

SANAA, iNews.id - Blokade maritim yang diumumkan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi berpotensi memicu guncangan besar di pasar energi global. 

Langkah ini muncul di tengah konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS), ketika Selat Hormuz juga masih mengalami pembatasan yang menghambat arus ekspor minyak dari kawasan Teluk.

Situasi menjadi semakin serius karena Houthi menguasai wilayah di sekitar Selat Bab Al Mandab, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Jika jalur ini ikut terganggu, dunia berisiko kehilangan dua koridor utama pengiriman minyak Timur Tengah secara bersamaan.

Arab Saudi sebelumnya telah mengalihkan lebih dari 70 persen ekspor minyaknya ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah untuk menghindari dampak pembatasan Selat Hormuz. Namun, kapal-kapal yang berangkat dari Yanbu menuju Asia tetap harus melewati Bab Al Mandab, sehingga ancaman Houthi dapat menggagalkan strategi tersebut.

Data Kpler dan Signal Ocean menunjukkan pengiriman minyak dari Yanbu melonjak menjadi sekitar 4 juta barel per hari dalam beberapa pekan terakhir, jauh lebih tinggi dibanding sekitar 973.000 barel per hari pada 2025. Sementara itu, total minyak yang melintasi Bab Al Mandab mencapai sekitar 7,4 juta barel per hari atau sekitar 7 persen produksi minyak global.

Apabila Houthi benar-benar menyerang kapal tanker atau memblokade jalur pelayaran di Bab Al Mandab, distribusi minyak ke Eropa maupun Asia akan terganggu. Dampaknya bisa berupa lonjakan harga minyak dunia, kenaikan biaya logistik, hingga meningkatnya inflasi di berbagai negara yang bergantung pada impor energi.

Kondisi tersebut juga berpotensi membuka babak baru krisis energi global, karena pasar kehilangan jalur alternatif yang selama ini menjadi penopang setelah Selat Hormuz mengalami gangguan.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut