Menlu Saudi: Pemulihan Hubungan dengan Iran Tak Berarti Semua Perselisihan Selesai
RIYADH, iNews.id - Arab Saudi dan Iran memulihkan hubungan diplomatik pekan lalu, menandai berakhirnya konflik selama 7 tahun. Namun Menteri Luar Negeri (Menlu) Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan menegaskan, pemulihan hubungan bukan berarti kedua negara telah mencapai solusi untuk semua perselisihan.
Kedua negara sepakat membuka kembali kedutaan besar (kedubes) di masing-masing ibu kota dalam 2 bulan yang mungkin membuka jalan dialog lebih luas untuk mencari solusi perselisihan.
Dalam wawancara dengan surat kabar Asharq Al Awsat, Faisal menegaskan penandatanganan kesepakatan di China pada Jumat lalu menggarisbawahi keinginan kedua pihak untuk menyelesaikan perselisihan melalui komunikasi dan dialog. Oleh karena itu, dia berharap bisa segera bertemu dengan mitranya dari Iran untuk membangun kesepakatan tersebut.
“Kita sedang bersiap untuk memulihkan hubungan diplomatik dalam 2 bulan, jadi wajar bagi kami untuk saling berkunjung di masa mendatang,” katanya, seperti dilaporkan kembali Saudi Gazette, Senin (13/3/2023).
Hubungan diplomatik, lanjut Faisal, merupakan inti dari hubungan antar negara. Kedua negara memiliki perbedaan dalam keyakinan, sejarah, dan budaya, sehingga kesepakatan dicapai melalui pihak ketiga yakni dimediasi China. Sebelumnya, pembicaraan juga digelar di di Irak dan Oman.
Arab Saudi berupaya untuk meredakan ketegangan sebagai bentuk tanggung jawab dalam memperkuat keamanan dan stabilitas di kawasan maupun internasional.
“Kami, di Kerajaan, berharap untuk membuka babak baru dengan Iran dan memperkuat kerja sama yang akan mengonsolidasikan keamanan dan stabilitas serta mendorong pembangunan dan kemakmuran, tidak hanya di kedua negara, tetapi seluruh kawasan,” ujarnya.
Faisal juga menyoroti upaya Iran dalam mengembangkan kemampuan nuklir. Isu tersebut merupakan penyebab memanasnya hubungan kedua negara.
“Kami telah berulang kali menyerukan agar wilayah Teluk dan Timur Tengah bebas dari senjata pemusnah massal. Kami meminta Iran untuk berkomitmen pada janji nuklir dan mengintensifkan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional. Kami akan terus bekerja sama dengan sekutu dan mitra untuk memastikan hal itu,” katanya.
Iran meningkatkan kemampuan nuklirnya setelah Amerika Serikat (AS), di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, menarik diri dari Kesepakatan Rencana Aksi Bersama (JCPOA) pada 2018. Kesepakatan yang juga diteken China, Rusia, Inggris, Jerman, dan Prancis itu mengharuskan Iran untuk membatasi program nukirnya dengan imbalan pencabutan sanksi.
Setelah menarik diri dari JCPOA, AS kembali menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Iran.
Pemerintahan Presiden Joe Biden berupaya membawa kembali AS dan Iran ke kesepakatan tersebut. Namun pertemuan yang digelar beberapa kali belum mencapai kata sepakat.
Editor: Anton Suhartono