Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Megawati Hadiri Zayed Award Roundtable 2026 di UEA, Bertemu Banyak Tokoh Dunia
Advertisement . Scroll to see content

Merasa Terancam, Putri Haya Istri Penguasa Dubai Kabur dan Sembunyi di Inggris

Rabu, 03 Juli 2019 - 11:50:00 WIB
Merasa Terancam, Putri Haya Istri Penguasa Dubai Kabur dan Sembunyi di Inggris
Putri Haya Bint al-Hussein dan suaminya, Sheikh Mohammed Al Maktoum, di Royal Ascot 2010. (FOTO: MAX MUMBY/INDIGO/GETTY IMAGES)
Advertisement . Scroll to see content

ABU DHABI, iNews.id - Putri Haya Bint Al Hussein, istri penguasa Dubai, Sheikh Mohammed Al Maktoum, tengah bersembunyi di London, Inggris. Dia disebut khawatir hidupnya terancam setelah melarikan diri dari suaminya sendiri.

Sheikh Mohammed (69), seorang jutawan pemilik kuda pacu yang seringkali tampak berbincang dengan Ratu Elizabeth II di Ascot, mengunggah sebuah puisi bernada amarah di akun Instagramnya dan menuduh seorang perempuan, yang tak dia sebut namanya, telah melakukan "pengkhianatan".

Putri Haya (45), yang lahir di Yordania dan mengenyam pendidikan di Inggris, menikahi Sheikh Mohammed -pemilik istal kuda pacu Godolphin- pada 2004, sekaligus menjadi istri keenam alias "istri junior".

Sheikh Mohammed dikabarkan memiliki 23 anak dari para istrinya.

Putri Haya melarikan diri pada awal tahun ini ke Jerman untuk mencari suaka. Dia kini dilaporkan tinggal di sebuah rumah seharga 107 juta dolar AS atau sekitar Rp1,5 triliun di Kensington Palace Gardens, London pusat, dan tengah mempersiapkan gugatan hukum di Pengadilan Tinggi.

Lantas apa yang memicunya untuk melarikan diri dari kehidupan mewahnya di Dubai? Mengapa pula dia merasa hidupnya terancam?

Dilaporkan BBC, Rabu (3/7/2019), sejumlah sumber yang dekat dengan Putri Haya mengatakan bahwa perempuan itu baru-baru ini menemukan sejumlah fakta yang menggelisahkan terkait kepulangan misterius Sheikha Latifa, salah satu anak perempuan sang suami, ke Dubai tahun lalu.

Latifa melarikan diri dari Uni Emirat Arab (UEA) lewat jalur laut dengan bantuan seorang pria asal Prancis, namun kemudian dicegat sejumlah orang bersenjata di lepas pantai India dan kembali ke Dubai.

Putri Haya saat itu, bersama dengan mantan presiden Irlandia Mary Robinson, melindungi reputasi Dubai atas insiden tersebut.

Pemerintah Dubai menyatakan bahwa pelarian Latifa "rawan eksploitasi" dan bahwa dia kini aman di Dubai. Namun sejumlah pegiat HAM menyatakan bahwa dia diculik secara paksa di luar kehendaknya.

Sejak saat itu, diduga, Putri Haya mengetahui sejumlah fakta baru tentang kasus itu dan sebagai akibatnya dimusuhi dan menerima tekanan dari keluarga besar sang suami hingga akhirnya merasa tak lagi aman berada di sana.

Seorang sumber yang dekat dengannya mengatakan bahwa dia khawatir dia sendiri kini akan diculik dan "diserahkan" kembali ke Dubai. Kedutaan Besar UEA di London menolak berkomentar tentang isu yang mereka anggap merupakan masalah pribadi antara kedua belah pihak.

Meski demikian, terdapat unsur yang lebih luas -lebih global- terkait masalah ini.

Putri Haya, yang menimba ilmu di Bryanston School di Dorset dan kemudian di Universitas Oxford, diduga ingin menetap di Inggris.

Jika sang suami memintanya kembali, maka hal ini akan menyebabkan masalah diplomatik yang memusingkan Inggris, yang memiliki kedekatan dengan UEA.

Kasus ini juga membuat tidak nyaman Yordania, berhubung Putri Haya merupakan saudari tiri Raja Abdullah dari Yordania. Hampir seperempat juta warga Yordania bekerja di UEA, mengirim uang dari sana. Yordania tak ingin merusak hubungannya dengan Dubai.

Editor: Nathania Riris Michico

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut