Momen Emosional di Balik Negosiasi Gaza, Negosiator AS Berduka kepada Hamas
KAIRO, iNews.id - Di tengah upaya keras menghentikan perang Gaza, momen penuh emosi terjadi dalam pertemuan antara delegasi Amerika Serikat (AS) dan perwakilan Hamas di Mesir. Pertemuan yang awalnya berlangsung tegang itu berubah haru ketika utusan Presiden Donald Trump, Jared Kushner, dan Steve Witkoff, menyampaikan belasungkawa atas kematian putra kepala negosiator Hamas, Khalid Al Hayya, akibat serangan Israel di Doha, Qatar.
Kushner, menantu Trump sekaligus negosiator AS untuk gencatan senjata, menceritakan momen tersebut sebagai salah satu peristiwa paling manusiawi dalam proses diplomasi yang keras dan dingin.
“Pertemuan itu berubah dari negosiasi dengan kelompok teroris menjadi pertemuan dua manusia yang saling menunjukkan kerentanan,” kata Kushner dalam wawancara dengan 60 Minutes CBS News, belum lama ini.
Witkoff, yang juga kehilangan seorang anak, mengaku sangat tersentuh ketika Al Hayya menceritakan duka atas putranya yang tewas dalam serangan Israel.
Bantah Serang Pasukan Zionis, Hamas Sebut Israel Cari Alasan untuk Serang Gaza Lagi
“Saya mengatakan kepadanya bahwa saya juga telah kehilangan seorang putra, dan bahwa kami berdua adalah anggota dari klub yang sangat buruk, para orang tua yang menguburkan anak-anak mereka,” tutur Witkoff.
Momen itu terjadi dalam pertemuan pada 8 Oktober di Kairo, sebulan setelah serangan udara Israel ke Doha yang menargetkan para pimpinan Hamas. Serangan tersebut mengguncang proses negosiasi yang tengah difasilitasi Qatar dan AS, dan hampir menggagalkan seluruh upaya gencatan senjata.
Jenazah Sandera Israel Tertimbun Reruntuhan, Hamas: Militer Zionis Harus Tanggung Jawab!
Kushner mengakui, peristiwa di Doha bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga pukulan telak terhadap kepercayaan diplomatik yang dibangun AS di Timur Tengah.
“Serangan itu melanggar banyak kepercayaan yang kami rasa pantas kami dapat dari pihak Israel. Itu bukan langkah strategis yang cerdas,” ujar suami Ivanka Trump tersebut.
Menurut dia, Trump bahkan turun tangan secara pribadi mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk meminta maaf kepada Qatar agar proses mediasi bisa berlanjut.
Witkoff menambahkan, kepercayaan Qatar sebagai mediator kunci sangat terguncang akibat serangan tersebut.
“Kepercayaan Qatar terhadap kita telah hilang. Serangan itu memiliki efek metastasis terhadap seluruh proses perdamaian,” ujarnya.
Meski suasana diplomasi penuh tekanan, Kushner menilai pertemuan emosional dengan Al Hayya membawa makna mendalam. Dia menyebutnya sebagai pengingat bahwa di balik politik dan perang, masih ada sisi kemanusiaan yang sama-sama terluka.
Editor: Anton Suhartono