Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Pemimpin Oposisi Israel Tuduh Netanyahu Ingin Kudeta Hasil Pemilu
Advertisement . Scroll to see content

Netanyahu Dilaporkan Tangkap dan Interogasi Politisi Oposisi setelah Kalah Pemilu

Jumat, 06 November 2026 - 06:29:00 WIB
Netanyahu Dilaporkan Tangkap dan Interogasi Politisi Oposisi setelah Kalah Pemilu
Benjamin Netanyahu dilaporkan menggunakan aparat keamanan untuk menangkap aktivis politik dan menginterogasi politisi senior setelah pemilu (Foto: Instagram)
Advertisement . Scroll to see content

TEL AVIV, iNews.id - Perdana Menteri IsraelBenjamin Netanyahu dilaporkan menggunakan aparat keamanan untuk menangkap aktivis politik dan menginterogasi politisi senior setelah kubunya kalah dalam pemilu parlemen Knesset pada 27 Oktober 2026.

Tuduhan serius tersebut dilontarkan pemimpin oposisi Israel, Yair Golan. Dia menuding Netanyahu berusaha mempertahankan kekuasaan melalui lembaga keamanan negara meski hasil pemilu menunjukkan kubu pemerintahannya kehilangan mayoritas di parlemen.

Golan bahkan menyebut langkah tersebut sebagai upaya kudeta terhadap hasil pemilu. Dia memperingatkan Israel sedang menghadapi keadaan darurat demokrasi karena pemerintahan Netanyahu yang segera lengser diduga berusaha menggunakan kekuasaan untuk kepentingan politik.

"Netanyahu kalah. Dia menolak untuk mengakui hasilnya dan mencoba melakukan kudeta, merebut kekuasaan dengan kekerasan," tulis Golan melalui media sosial X.

Dia juga menuduh polisi menangkap sejumlah aktivis politik tanpa surat perintah. Sementara itu, badan intelijen dalam negeri Israel, Shin Bet, disebut berusaha menginterogasi sejumlah politisi senior atas dugaan pelanggaran.

"Setiap pertambahan menit, pemerintah yang akan segera lengser memegang kendali kekuasaan, berbahaya bagi demokrasi Israel," ujarnya.

Golan mendesak seluruh partai oposisi segera membentuk pemerintahan baru untuk memulihkan supremasi hukum dan mencegah lembaga-lembaga negara dijadikan alat kepentingan politik.

Dia juga mengingatkan pimpinan kepolisian, Shin Bet, serta badan intelijen luar negeri Mossad agar tidak tunduk kepada kepentingan pribadi perdana menteri.

"Anda harus setia kepada hukum dan negara Israel, bukan kepada perdana menteri, bukan kepada partai, dan bukan kepada kepentingan politik mana pun," tuturnya.

Netanyahu Kehilangan Mayoritas di Knesset

Tuduhan Golan muncul di tengah ketidakpastian politik setelah pemilu parlemen Israel. Hasil penghitungan suara final menunjukkan blok Netanyahu hanya memperoleh 53 dari total 120 kursi Knesset.

Sementara itu, blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot meraih 48 kursi. Adapun partai-partai Arab mencatatkan perolehan bersejarah dengan mengamankan 19 kursi.

Dengan demikian, tidak ada satu pun blok yang mampu mencapai ambang batas 61 kursi untuk membentuk pemerintahan mayoritas.

Hasil tersebut menjadi pukulan telak bagi Netanyahu. Sebab, koalisi pemerintahannya sebelumnya menguasai 68 kursi di Knesset. Penurunan menjadi 53 kursi membuat posisinya semakin terancam.

Data yang dilaporkan The Times of Israel menyebutkan tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,9 persen atau sekitar 5,7 juta suara. Angka tersebut merupakan tingkat partisipasi tertinggi dalam beberapa dekade.

Kemenangan partai-partai Arab juga menjadi salah satu kejutan terbesar dalam pemilu kali ini. Mereka meningkatkan perolehan dari 10 kursi pada pemilu sebelumnya menjadi 19 kursi.

Menurut laporan Associated Press (AP), hasil pemilu tersebut membuat Netanyahu menghadapi kesulitan mempertahankan pemerintahan. Oposisi berpeluang menggantikannya, tetapi harus menyelesaikan perbedaan pandangan mengenai kerja sama dengan partai-partai Arab.

Oposisi Siapkan Pemerintahan Pengganti

Sehari sebelum Golan melontarkan tuduhan tersebut, para pemimpin oposisi Israel telah sepakat merekomendasikan Gadi Eisenkot kepada Presiden Isaac Herzog untuk membentuk pemerintahan baru.

Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan di Herzliya yang dihadiri Eisenkot, mantan Perdana Menteri Naftali Bennett, pemimpin Yisrael Beytenu Avigdor Lieberman, Yair Golan, serta Yair Lapid.

Mereka bertekad mengganti pemerintahan Netanyahu dengan pemerintahan darurat nasional. Para pemimpin oposisi juga sepakat mengoordinasikan langkah-langkah parlementer dan segera menyusun perjanjian koalisi.

Jika seluruh partai oposisi Yahudi dan Arab memberikan dukungan kepada Eisenkot, total dukungannya bisa mencapai 67 kursi. Jumlah tersebut lebih dari cukup untuk membentuk pemerintahan mayoritas.

Namun, rencana itu masih menghadapi hambatan. Sejumlah partai oposisi Yahudi belum bersedia bekerja sama dengan partai-partai Arab. Lieberman secara terbuka menolak pemerintahan yang bergantung pada dukungan partai-partai Arab.

Presiden Israel Mulai Proses Pembentukan Pemerintahan

Di tengah ketegangan politik tersebut, Presiden Isaac Herzog mulai menjalankan proses pembentukan pemerintahan baru setelah hasil pemilu disahkan.

Dikutip dari Associated Press (AP), Herzog telah menerima hasil pemilu yang disertifikasi sebagai hasil yang sah dan mengawali konsultasi dengan para pemimpin partai politik untuk menentukan kandidat yang paling mungkin membentuk pemerintahan.

Perkembangan ini juga menyoroti persoalan dugaan campur tangan asing dan kecurangan pemilu. Namun, Komisi Pemilihan Umum Pusat Israel sebelumnya menyatakan penyelidikan mereka tidak menemukan bukti kecurangan sistematis yang dapat mengubah hasil pemilu.

Dalam perkembangan terkait, jaksa agung Israel menolak permintaan Shin Bet untuk menginterogasi anggota parlemen Arab karena dinilai tidak memiliki bukti yang memadai. Langkah tersebut memperlihatkan bahwa tindakan lembaga keamanan dalam menyelidiki dugaan campur tangan pemilu juga menghadapi pengawasan hukum.

Berdasarkan sistem demokrasi parlementer Israel, presiden berkonsultasi dengan partai-partai yang terpilih sebelum menunjuk seorang anggota Knesset untuk membentuk pemerintahan.

Anggota parlemen yang ditunjuk memiliki waktu 28 hari untuk menyusun koalisi. Masa tersebut dapat diperpanjang hingga 14 hari apabila diperlukan.

Sementara itu, pemerintahan Netanyahu tetap menjalankan tugas sebagai pemerintahan sementara sampai pemerintahan baru memperoleh mandat dari Knesset.

Anggota parlemen yang baru terpilih dijadwalkan menggelar sidang perdana pada 10 November. Oposisi juga berupaya mengganti Ketua Knesset Amir Ohana yang berasal dari Partai Likud, partai pimpinan Netanyahu.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut