Netanyanu Bangga Jatuhkan 153 Ton Bom Sehari di Gaza, Simbol Kekejaman yang Blak-blakan
TEL AVIV, iNews.id - Militer Israel kembali mengguncang Gaza dengan serangan udara brutal pada Minggu (19/10/2025) yang disebut-sebut sebagai serangan terbesar sejak gencatan senjata diberlakukan. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan secara terbuka membanggakan aksi pelanggaran itu dalam pidato di parlemen.
Dalam pernyataannya di sidang musim dingin Knesset, Netanyahu mengaku pasukannya menjatuhkan 153 ton bom dalam waktu 24 jam ke wilayah Gaza, menargetkan puluhan lokasi yang disebut sebagai markas Hamas.
“Selama gencatan senjata, dua tentara kita tewas. Kita merespons dengan kekuatan penuh, 153 ton bom terhadap target di seluruh Jalur Gaza,” ujar Netanyahu.
Gencatan Senjata Hanya di Atas Kertas
Pernyataan Netanyahu itu memicu kemarahan publik internasional karena menjadi pengakuan terbuka atas pelanggaran gencatan senjata yang disepakati sejak 10 Oktober lalu.
Kantor Media Gaza mencatat, Israel telah melanggar gencatan senjata sebanyak 80 kali, termasuk serangan terbaru yang menewaskan sedikitnya 46 orang dalam sehari dan melukai lebih dari 200 warga.
Secara total, sejak gencatan senjata berlaku, 97 warga Palestina tewas akibat berbagai serangan Israel. Banyak di antaranya adalah perempuan dan anak-anak.
“Israel menjadikan gencatan senjata hanya sebagai alat politik, bukan komitmen kemanusiaan,” kata juru bicara Hamas, menanggapi pernyataan Netanyahu.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) beralasan serangan ke Gaza dilakukan sebagai balasan atas dugaan serangan roket anti-tank dari Hamas di Rafah yang menewaskan dua tentara. Namun Hamas membantah keras tudingan itu.
Pidato Netanyahu yang terkesan membanggakan aksi militer justru menuai kritik tajam, bahkan dari anggota parlemen oposisi di Knesset.
Beberapa kali pidatonya diinterupsi oleh anggota parlemen yang menuding pemerintah “tidak memiliki arah selain memperpanjang perang dan penderitaan warga Gaza.”
“Tidak ada yang bisa dibanggakan dari membunuh warga sipil di tengah gencatan senjata,” ujar seorang anggota oposisi Israel, seperti dikutip media lokal Haaretz.
Sejak konflik pecah pada 7 Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 68.200 warga Palestina dan melukai lebih dari 170.000 orang. Serangan pada Minggu merupakan yang paling mematikan sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober lalu.
Bagi banyak pengamat, bom 153 ton bukan sekadar statistik, melainkan simbol kekejaman yang semakin terbuka, bahkan dirayakan oleh pemimpin Israel sendiri.
“Ketika seorang perdana menteri mengukur keberhasilan perang dengan jumlah bom yang dijatuhkan, itu menandakan krisis moral yang mendalam,” tulis analis Timur Tengah, Alon Ben Meir, dalam kolomnya di Middle East Monitor.
Editor: Anton Suhartono