Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Serangan Siber Lagi! Hacker Bobol Bank di Prancis, Curi Rp2 Triliun
Advertisement . Scroll to see content

Ngeri! Hacker Serang Bank Darah Prancis, Bisa Bikin Darah Mendidih

Sabtu, 07 November 2026 - 06:19:00 WIB
Ngeri! Hacker Serang Bank Darah Prancis, Bisa Bikin Darah Mendidih
Setelah merusak sistem pendingin puluhan supermarket di 11 negara Eropa, kini peretas menyasar bank darah di Prancia (Foto: AP)
Advertisement . Scroll to see content

PARIS, iNews.id - Serangan hacker terhadap fasilitas penting di Eropa semakin mengkhawatirkan. Setelah merusak sistem pendingin puluhan supermarket, kini peretas menyasar bank darah di Prancis. Mereka berupaya mengubah suhu ruang penyimpanan plasma dan sampel darah menjadi sangat panas, bahkan diprogram mencapai 110 derajat Celsius.

Serangan tersebut menargetkan penyedia layanan pendingin yang digunakan oleh Lembaga Darah Prancis (EFS). Akibatnya, sistem pengontrol suhu di tiga lokasi penyimpanan plasma dan sampel darah mengalami gangguan.

Jika tidak segera diketahui, serangan tersebut berpotensi menghancurkan persediaan darah yang disimpan untuk kebutuhan rumah sakit dan pasien.

Beruntung, sistem pemantauan dan alarm EFS mendeteksi perubahan suhu secara cepat. Petugas langsung mengambil tindakan untuk menyelamatkan produk darah, termasuk memindahkan plasma dari lemari pendingin yang terdampak.

"Tidak ada konsekuensi kesehatan yang teridentifikasi, dan tidak ada produk darah yang rusak," demikian pernyataan EFS, dikutip dari BleepingComputer, Kamis (5/11/2026).

EFS juga memastikan insiden tersebut tidak mengganggu kegiatan operasional maupun distribusi produk darah kepada rumah sakit.

Serangan siber itu terjadi pada 2 November dan pertama kali dilaporkan surat kabar Prancis Le Canard Enchaîné pada Rabu (4/11/2026).

Menurut laporan tersebut, sistem pendingin diprogram mencapai suhu 110 derajat Celsius, padahal plasma seharusnya disimpan pada suhu sekitar minus 30 derajat Celsius.

Dengan kata lain, hacker berusaha membalik fungsi fasilitas penyimpanan darah dari mempertahankan suhu beku menjadi menghasilkan panas ekstrem.

Bukan EFS yang Langsung Diretas

Dalam penjelasannya, EFS mengungkapkan bahwa lembaga tersebut bukan sasaran langsung serangan. Hacker justru menargetkan penyedia layanan pendingin yang memiliki akses ke sistem pengawasan dan pengendalian fasilitas penyimpanan darah.

Perusahaan pemasok peralatan pendingin, Coolworld, mengakui adanya insiden keamanan siber yang melibatkan perangkat lunak pemantauan jarak jauh.

Coolworld menyebut kerentanan yang dieksploitasi hacker berasal dari komponen milik pemasok pihak ketiga dan berada di luar kendali langsung perusahaan.

"Kerentanan yang saat ini diberitakan media berkaitan dengan komponen dari pemasok pihak ketiga dan berada di luar kendali langsung Coolworld," demikian pernyataan perusahaan.

Coolworld menyatakan hanya sejumlah kecil unit pendingin yang terdampak dan pihaknya telah mengambil tindakan untuk mengatasi masalah tersebut.

Sebagai langkah pengamanan, akses jarak jauh ke unit pendingin yang terdampak dinonaktifkan.

Badan keamanan siber Prancis bersama Kementerian Kesehatan juga melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku serta metode yang digunakan dalam serangan tersebut.

Sebelumnya Hacker Serang Supermarket di 9 Negara Eropa

Serangan terhadap bank darah Prancis terjadi ketika Eropa sedang menghadapi gelombang peretasan sistem pendingin supermarket.

Euronews dan AFP melaporkan, pada 2 November 2026, dugaan serangan siber kembali menyasar supermarket di sedikitnya sembilan negara Eropa, yakni Belgia, Estonia, Finlandia, Irlandia, Italia, Luksemburg, Belanda, Portugal, dan Swedia.

Hacker mengubah pengaturan suhu lemari pendingin dan freezer sehingga makanan beku serta produk segar mengalami kerusakan.

Di sejumlah lokasi, suhu freezer bahkan melonjak hingga 50 derajat Celsius.

Di Belgia, sekitar 75 gerai supermarket dan sejumlah toko lain dilaporkan terdampak, termasuk gerai Carrefour, Delhaize, Intermarché dan IKEA.

Di Irlandia, sebanyak 13 gerai SuperValu mengalami gangguan. Sementara di Portugal, tujuh gerai Intermarché melaporkan insiden yang diduga berkaitan dengan serangan siber terhadap penyedia layanan pendingin.

Reuters melaporkan pada 3 November, serangan gelombang kedua tersebut memaksa supermarket di delapan negara Eropa membuang persediaan makanan dalam jumlah besar.

Sejumlah jaringan supermarket langsung memutus akses internet ke sistem pendingin mereka untuk mencegah serangan lanjutan.

Pihak berwenang Uni Eropa (UE) menilai serangan berulang tersebut sebagai ancaman serius terhadap rantai pasokan pangan dan kepercayaan konsumen.

AS Peringatkan Ancaman Hacker terhadap Sistem Pendingin

Ancaman peretasan terhadap sistem pendingin ternyata tidak hanya terjadi di Eropa.

Reuters melaporkan pada 5 November 2026, pemerintah Amerika Serikat (AS) mengeluarkan peringatan mengenai ancaman siber yang terus berlangsung terhadap sistem pendingin industri.

Peringatan bersama tersebut dikeluarkan FBI, Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur (CISA), serta sejumlah departemen pemerintah AS.

Mereka memperingatkan bahwa pelaku kejahatan siber mengeksploitasi kerentanan pada pengontrol suhu dan sistem pendingin yang terhubung ke internet.

Jika berhasil, hacker bisa memanipulasi suhu, memicu kebakaran, menyebabkan kerugian persediaan dalam jumlah besar, hingga merusak peralatan.

Pemerintah AS meminta perusahaan yang mengoperasikan fasilitas pendingin untuk memutus pengontrol yang rentan dari internet publik, memisahkan sistem tersebut dari jaringan perusahaan, serta segera memasang pembaruan keamanan.

Reuters juga mengungkap serangan serupa sebelumnya telah menyasar fasilitas militer AS pada Agustus 2026.

Rangkaian insiden ini memperlihatkan bahwa sistem pendingin yang selama ini dianggap sebagai perangkat operasional biasa ternyata dapat menjadi pintu masuk serangan siber terhadap infrastruktur penting.

Meski demikian, hingga kini belum ada bukti yang memastikan serangan terhadap bank darah Prancis, supermarket Eropa, dan fasilitas lainnya dilakukan oleh kelompok hacker yang sama.

Darah dan Persediaan Makanan Jadi Sasaran Baru

Kasus di Prancis memperlihatkan risiko yang lebih luas dari serangan terhadap perangkat teknologi yang terhubung ke internet.

Selama ini, serangan siber lebih sering dikaitkan dengan pencurian data, pembobolan rekening, atau penyanderaan sistem komputer. Namun, insiden terbaru menunjukkan hacker juga bisa mengubah pengaturan perangkat fisik yang mengendalikan fasilitas penting.

Dalam kasus bank darah, perubahan suhu dapat mengancam kualitas plasma dan sampel biologis. Sementara pada supermarket, manipulasi suhu bisa menyebabkan makanan membusuk dan menimbulkan kerugian ekonomi.

Jika serangan serupa berhasil menembus sistem pengamanan fasilitas kesehatan, dampaknya bisa jauh lebih serius karena menyangkut ketersediaan produk darah untuk kebutuhan medis.

Untuk saat ini, EFS memastikan tidak ada darah atau sampel yang rusak. Namun, penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap siapa pelaku di balik serangan yang membuat fasilitas penyimpanan darah Prancis berada dalam ancaman tersebut.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut