Pakistan Larang Adegan Ranjang dan Dialog Vulgar di Serial Drama TV
ISLAMABAD, iNews.id - Televisi Pakistan mungkin tidak lagi bisa menayangkan adegan "mesra" atau "adegan ranjang", seperti yang diumumkan oleh badan regulasi media negara tersebut. Badan tersebut juga mengeluhkan terlalu banyaknya konten feminis dan memperingatkan "tema-tema seronok" seperti itu menyinggung penonton.
Otorita Regulasi Media Elektronik Pakistan (PEMRA) mengeluarkan peringatan tersebut pada Selasa (8/1) dan menyerukan saluran-saluran televisi untuk menghormati peraturan bagi media yang sudah berlaku selama ini, yaitu tidak menyiarkan tayangan yang bertolak belakang dengan keadaan masyarakat Pakistan yang sebenarnya.
"Maraknya tren tema-tema seronok dalam industri drama Pakistan dikeluhkan oleh publik," demikian pernyataan PEMRA, seperti dilaporkan AFP.
"Adegan atau dialog tidak senonoh, hubungan di luar nikah, kekerasan, pakaian yang tidak sopan, adegan pemerkosaan, adegan bercumbu, adegan ranjang, penggunaan narkoba dan alkohol, momen-momen intim antara pasangan digambarkan secara glamor dan mengabaikan budaya dan nilai-nilai Pakistan," lanjut PEMRA.
Menurut data dari PEMRA dan Gallup Pakistan, acara drama dan opera sabun televisi Pakistan yang berupaya melawan hal-hal yang dianggap tabu oleh kalangan konservatif di negara tersebut yang sangat menjunjung tinggi patriarki, sangat populer.
Acara tersebut kebanyakan menampilkan alur cerita yang menggambarkan masalah sosial seperti KDRT, kekerasan terhadap anak, misogyny atau anti-perempuan. Para aktivis tadinya memuji acara tersebut sebagai media yang kuat untuk membawa perubahan di Pakistan.
Tahun lalu, sebuah opera sabun mendramatisir kehidupan selebriti media sosial Qandeel Baloch, yang dikenal karena foto-foto selfie-nya provokatif dan akhirnya dibunuh oleh saudara laki-lakinya pada 2016, menjadi acara yang paling populer.
Acara-acara lain yang menyoroti masalah "pembunuhan demi kehormatan keluarga" dan kawin paksa juga banyak disukai, walaupun sempat dikecam di media sosial. Selain itu, banyak juga orang yang menuduh media televisi menyebarkan kevulgaran dan merusak nilai-nilai sosial.
"Acara drama seperti itu menggambarkan citra usang perempuan dan membatasi mereka dengan hanya mengangkat isu-isu feminis dan tidak menghiraukan anak-anak, remaja, dan pria," sebut PEMRA.
Editor: Nathania Riris Michico