Panas! Iran Gempur 18 Target Milliter AS di Timur Tengah
TEHERAN, iNews.id - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membalas serangan terbaru Amerika Setikat dengan menggempur pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara Teluk, Kamis (11/6/2026) dini hari. Sebelumnya, AS menggempur beberapa kota di Iran, sebagian besar berada di pesisir Selat Hormuz.
Kantor berita Tasnim, memngutip keterangan IRGC, melaporkan Angkatan Udara dan Angkatan Laut menggelar serangan operasional dua gelombang terhadap pasukan AS di kawasan.
Serangan tersebut menargetkan 18 instalasi penting yang terdapat.di pangkalan-pangkalan yang menampung pasukan AS.
IRGC tak menyebutkan negara-negara Teluk atau Timur Tengah yang menjadi target serangan terbaru ini. Namun pada Rabu kemarin, IRGC menggempur 22 target militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
AS Serang Iran Lagi, Ledakan Guncang Kota-Kota di Sepanjang Selat Hormuz
Tak lama setelah itu Kementerian Dalam Negeri Bahrain meminta warganya untuk tetap tenang dan menuju tempat aman terdekat. Bahrain merupakan markas Armada Ke-5 AS.
Komando Pusat AS (Centcom) mengumunkan serangan pertahanan diri terbaru sebagai "tanggapan terhadap agresi Iran yang tidak beralasan dan berkelanjutan".
Iran Klaim 70% Serangannya Hantam Target Pangkalan AS di Timur Tengah
Akibat serangan tersebut ledakan terdengar di Pulau Qeshm, Teluk Hormuz, serta sejumlah kota lain, termasuk Bandar Abbas, Sirik, dan Minab
Sebelumnya Trump menulis di akun media sosial Truth Social, para pemimpin Iran "terlalu lama bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan".
Pernyataan itu dilanjutkan dengan ancaman bahwa AS akan menyerang Iran lebih keras lagu, termasuk menargetkan infrastruktur jembatan dan pembangkit listrik.
Sebagai respons, komando militer tertinggi Iran menutup total Selat Hormuz. Seluruh kapal yang melintas di Selat Hormuz, termasuk kapal tanker minyak dan kapal kargo, akan menjadi target serangan.
Peringatan itu langsung diikuti aksi Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang mengumumkan telah menyerang dua kapal tanker minyak yang disebut melakukan pelayaran ilegal di jalur perairan strategis tersebut.
Editor: Anton Suhartono