PBB Desak Donald Trump Tak Menarik Diri dari Kesepakatan Nuklir Iran

Nathania Riris Michico ยท Kamis, 03 Mei 2018 - 12:01:00 WIB
PBB Desak Donald Trump Tak Menarik Diri dari Kesepakatan Nuklir Iran
Presiden AS Donald Trump. (Foto: AP)

NEW YORK, iNews.id - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak meninggalkan kesepakatan internasional tentang nuklir Iran. Guterres mengatakan akan ada risiko perang jika perjanjian 2015 itu tidak dipertahankan.

Dalam perjanjian itu disebutkan, Iran setuju membatasi pengembangan program nuklir dengan imbalan pencabutan sanksi. Trump memiliki waktu hingga 12 Mei untuk memutuskan apakah akan tetap dengan kesepakatan atau tidak.

Kepada BBC, Guterres mengatakan perjanjian nuklir Iran merupakan kemenangan diplomatik penting dan harus dipertahankan.

"Kita tidak boleh membatalkannya kecuali memiliki alternatif yang lebih baik. Kita sedang menghadapi masa-masa berbahaya," kata Gutteres.

Dia menyampaikan hal tersebut beberapa hari setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkap file program nuklir rahasia dan menuduh Iran secara diam-diam mengembangkan senjata nuklir.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyebut ribuan file tersebut memberikan bukti bahwa kesepakatan nuklir yang diteken saat pemerintahan Presiden Barack Obama dibangun di atas kebohongan.

Sementara itu, saat ini sekutu AS di Eropa, yakni Prancis, Inggris, dan Jerman sepakat tetap mempertahankan kesepakatan nuklir Iran. Langkah itu dianggap sebagai cara terbaik untuk menghentikan Iran mengembangkan senjata nuklir.

Sekadar diketahui, pada 2015, Iran menandatangani perjanjian dengan AS, China, Rusia, Jerman, Prancis, dan Inggris, berisi pembatasan kegiatan nuklir sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi yang berat.

Berdasarkan kesepakatan yang dikenal dengan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) itu, Iran berkomitmen memangkas jumlah sentrifugal, yakni mesin yang digunakan untuk memperkaya uranium.

Selain itu, Iran juga harus mengurangi persediaan uranium yang sempat diperbanyak secara drastis, serta tidak boleh memperbanyak uranium yang masih ada hingga ke tingkat yang diperlukan untuk memproduksi senjata nuklir.

Jumlah sentrifugal yang dipasang di wilayah Natanz dan Fordo, Iran, dikurangi secara drastis tak lama setelah kesepakatan. Namun berton-ton uranium berkonsentrasi rendah dikirim ke Rusia.

Selanjutnya pengawas dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA), pengawas nuklir global PBB yang berbasis di Wina, Austria, menginspeksi di wilayah pengembangan nuklir Iran.

Editor : Nathania Riris Michico