Pejabat Israel Sebut Iran Mungkin Serang Negaranya untuk Ganggu Pemilu
WASHINGTON, iNews.id - Seorang pejabat keamanan Israel memperingatkan Iran dan musuh-musuh Israel kemungkinan melancarkan serangan untuk mengganggu proses pemilu di negaranya. Serangan tersebut dinilai dapat diarahkan untuk memengaruhi situasi keamanan Israel tanpa memicu eskalasi regional yang lebih luas.
Pejabat yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan musuh-musuh Israel sedang mengamati dengan saksama pemilu Israel pada 27 Oktober dan pemilu Amerika Serikat (AS) pada 3 November mendatang.
Menurut dia, pihak-pihak tersebut sedang menilai bagaimana serangan dapat digunakan untuk memengaruhi hasil pemilu. Salah satu skenario yang dikhawatirkan adalah serangan terhadap Israel yang cukup untuk mengganggu keamanan, tetapi tidak sampai memicu perang kawasan.
"Mereka memahami bahwa respons Israel kali ini akan sangat agresif," kata pejabat tersebut, seperti dikutip dari portal berita Israel, Walla.
Pernyataan itu muncul ketika militer Israel meningkatkan persiapan menghadapi kemungkinan konfrontasi baru dengan Iran. Pasukan Israel disebut bersiap menghadapi kemungkinan memburuknya situasi keamanan secara cepat di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington.
Sebagai bagian dari persiapan tersebut, militer Israel juga melakukan perencanaan operasi terhadap sejumlah target potensial di wilayah Iran.
Walla melaporkan militer Israel berkoordinasi erat dengan Komando Pusat AS (Centcom) untuk mempersiapkan berbagai skenario, termasuk kemungkinan serangan rudal Iran.
AS Bersiap Tambah Pasukan ke Israel
Di tengah kekhawatiran tersebut, Amerika Serikat bersiap mengirim pasukan dan pesawat tambahan ke Israel dalam beberapa pekan mendatang.
Saat ini sekitar 3.000 personel militer AS berada di berbagai wilayah Israel. Mereka menjalankan sejumlah tugas, mulai dari mengoperasikan sistem pertahanan udara, dukungan penerbangan dan logistik hingga penempatan di markas militer.
Militer AS juga melakukan rotasi rutin pasukan dalam beberapa pekan terakhir setelah menyelesaikan sejumlah misi di kawasan Timur Tengah yang tengah dilanda ketegangan.
Penambahan kekuatan tersebut dinilai sebagai langkah antisipasi jika situasi antara Israel dan Iran kembali memburuk.
Kekhawatiran terhadap kemungkinan serangan Iran menjadi semakin sensitif karena waktunya berdekatan dengan agenda politik penting di Israel dan AS.
Pemilu Israel dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober, sedangkan pemilu AS digelar pada 3 November.
Pejabat Israel tersebut menilai musuh-musuh negaranya memahami bahwa serangan menjelang pemilu dapat menciptakan tekanan keamanan dan politik. Namun, mereka juga disebut berhati-hati agar serangan tidak berkembang menjadi konflik regional berskala lebih besar.
Di sisi lain, Israel tampaknya tidak ingin menunggu sampai serangan terjadi. Persiapan menghadapi kemungkinan serangan rudal Iran terus dilakukan, sementara koordinasi dengan militer AS diperkuat.
Situasi ini membuat periode menjelang pemilu Israel dan AS menjadi salah satu fase sensitif dalam hubungan Israel-Iran. Setiap serangan baru berpotensi tidak hanya memicu respons militer, tetapi juga memengaruhi kondisi keamanan dan politik kedua negara.
Editor: Anton Suhartono