Pejabat Kota di China Dipecat karena Tak Tahu Jumlah Warganya yang Dirawat akibat Virus Korona
BEIJING, iNews.id - Otoritas China memecat salah seorang pejabat dinas kesehatan Kota Huanggang, tetangga Wuhan pusat epidemi virus korona, karena alasan terbilang konyol.
Alasannya pria bernama Tang Zhihong itu tak bisa menjawab pertanyaan mendasar seputar wabah virus korona di daerahnya saat ditanya oleh tim inspeksi dari pemerintah pusat serta jurnalis stasiun televisi pemerintah, Kamis (30/1/2020) pagi.
Tang ditanya mengenai berapa jumlah warga di Huanggang yang dirawat karena terinfeksi virus korona, namun menjawab tak tahu.
"Saya tak tahu. Saya belum tahu persis," ujarnya, dikutip dari Reuters, Jumat (31/1/2020).
Orang-Orang Terkaya di China Ramai-Ramai Sumbang Harta Lawan Virus Korona
Dia hanya bisa menjawab daya tampung rumah sakit rujukan bagi penderita virus korona.
"Saya hanya tahu berapa banyak tempat tidur di sana. Jangan tanya saya berapa banyak orang yang dirawat," ujarnya.
Filipina Jadi Negara Asia Tenggara Ke-6 yang Konfirmasi Kasus Virus Korona
Beberapa jam kemudian, dinas kesehatan Kota Huanggang mengeluarkan pernyataan bahwa Tang telah dicopot.
Kisah Tang menjadi viral setelah diangkat stasiun televisi pemerintah di platform media sosial Weibo serta mendapat komentar lebih dari setengah juta netizen. Kebanyakan dari mereka menggungkapkan kemarahan kepada Tang.
Pemerintah menegaskan akan menyelidiki dan menghukum para pejabat yang tak terlibat dalam memerangi virus korona serta malas bekerja.
Jumlah kasus virus korona di Huanggang merupakan yang terbesar kedua setelah Wuhan, yakni 12 orang meninggal dan 500 positif terinfeksi. Huanggang juga sudah diisolasi oleh pemerintah sebagai upaya mencegah penyebaran virus.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan darurat global virus korona pada Kamis. Darurat global diumumkan ketika China melaporkan jumlah kematian meningkat menjadi 213 orang dengan hampir 10.000 positif terinfeksi.
"Kekhawatiran terbesar kami adalah potensi penyebaran virus ke negara-negara lain dengan sistem kesehatan lebih lemah," kata bos WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Editor: Anton Suhartono