Pemberontak Bakar Desa, 52 Warga Sipil Tewas
KINSHASA, iNews.id - Puluhan warga desa tewas dibunuh pemberontak di Provinsi Ituri di Kongo timur. Selain korban tewas, sebanyak 100 warga sipil dilaporkan hilang.
Wali Kota Mongwalu, yang berjarak 7 kilometer dari lokasi, Jean-Pierre Bikilisende mengatakan, kelompok pejuang yang dikenal sebagai CODECO menyerang Kota Kablangete, Minggu (8/5/2022). Jumlah korban tewas mencapai 52 orang.
Kementerian Komunikasi Kongo mengutuk pembunuhan itu sebagai tindakan biadab dan pengecut yang dilakukan teroris CODECO terhadap penduduk yang tidak bersalah. dalam sebuah pernyataan. Pemerintah mengatakan pihaknya bertekad untuk memulihkan perdamaian di wilayah tersebut.
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric di New York mengatakan, sedikitnya 38 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas di lokasi pertambangan Blakete-Plitu. Banyak warga sipil mengungsi dan dilaporkan hilang ketika para penyerang membakar Desa Malika dekat tambang. Penyerang juga dilaporkan memperkosa enam wanita.
Pemberontak Serang Tentara di Sejumlah Lokasi, 11 Prajurit dan 4 Warga Sipil Tewas
Dia menambahkan, misi penjaga perdamaian PBB di Kongo mengevakuasi warga sipil yang terluka parah pada Senin (9/5/2022) ke fasilitas medis di Bunia, Provinsi Ituri
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres meminta pihak berwenang Kongo untuk menyelidiki insiden tersebut dan menyeret pelaku ke pengadilan. Pemerintah Kongo juga diminta memastikan akses langsung misi penjaga perdamaian ke daerah itu untuk memfasilitasi upaya melindungi warga sipil.
Sekjen PBB mendesak semua kelompok bersenjata di Kongo untuk berhenti menyerang warga sipil dan berpartisipasi dalam proses politik dan meletakkan senjata mereka.
Jean Ladis Maboso, seorang administrator di daerah yang terkena dampak, menyerukan keadilan.
“Kami mengutuk pembunuhan warga sipil ini. Milisi mengeksekusi warga sipil tanpa adanya elemen keamanan. Ini adalah tindakan kriminal yang tidak bisa dibiarkan begitu saja," katanya.
Pada bulan Februari, pejuang CODECO menyerang daerah Djugu dan menewaskan sedikitnya 60 orang.
Kongo Timur telah menjadi tidak stabil selama bertahun-tahun oleh serangan dari beberapa kelompok pemberontak yang berbeda, termasuk CODECO, yang berlomba-lomba untuk menguasai daerah yang kaya mineral itu. Kekerasan yang sedang berlangsung telah mendorong ribuan penduduk perdesaan untuk meninggalkan rumah mereka ke daerah yang lebih aman.
Serangan terakhir terjadi seminggu setelah diskusi diadakan di Kenya antara pemerintah Kongo dan gerakan pemberontak untuk mencoba membangun perdamaian dan stabilitas di daerah itu.
Editor: Umaya Khusniah