Pemberontak Serang Tentara di Sejumlah Lokasi, 11 Prajurit dan 4 Warga Sipil Tewas
BAMAKO, iNews.id - Sebannyak 11 tentara dan empat warga sipil tewas dalam serangan di Mali dan Burkina Faso, Minggu (24/4/2022). Negara-negara di Afrika Barat itu terus menghadapi pemberontakan jihad yang mematikan.
Seorang pelaku bom bunuh diri mengendarai mobil yang penuh dengan bahan peledak ke tiga kamp militer di Mali tengah sebelum fajar. Akibatnya, enam tewas dan 15 terluka di kamp Sevare. Sementara ada lima tentara lain yang juga terluka di dua lokasi berbeda.
Di seberang perbatasan di Burkina Faso utara, orang-orang bersenjata menyerang satu detasemen militer di Gaskinde pada dini hari. Ada lima tentara dan empat warga sipil tewas.
Junta militer telah merebut kekuasaan di Mali dan Burkina Faso dalam dua tahun terakhir. Mereka berjanji untuk memberikan keamanan yang lebih besar daripada pendahulu mereka yang dipilih secara demokratis.
Bom Bunuh Diri di Masjid saat Sholat Jumat, 30 Orang Tewas
Tapi serangan kekerasan tetap ada. Angkatan bersenjata kedua negara telah dituduh melakukan pelanggaran terhadap warga sipil dalam upaya mereka untuk membasmi pejuang Islam dari komunitas gurun pedesaan.
Masalah dimulai di Mali pada 2012 ketika kelompok Islamis mengambil alih wilayah utara. Pasukan Prancis memukul mundur mereka, tetapi pejuang berkumpul kembali dan segera melakukan serangan lebih dekat ke ibu kota Bamako di selatan.
13 Orang Tewas serta 18 Orang Luka-Luka akibat Ledakan Bom Bunuh Diri di Restoran
Dalam beberapa tahun, kelompok-kelompok yang terkait dengan Al Qaeda dan IS menyebar dan membuat kekacauan di Burkina Faso dan Niger. Ribuan orang tewas dan jutaan lainnya mengungsi.
Junta yang menggulingkan pemerintah Mali dalam kudeta militer tahun 2020 telah meminta bantuan pejuang swasta milik Grup Wagner Rusia, yang dituduh melakukan pelanggaran di negara lain dan mendapat sanksi dari Uni Eropa.
Mali dan Rusia sebelumnya mengatakan mereka bukan tentara bayaran tetapi pelatih yang membantu pasukan lokal dengan peralatan yang dibeli dari Rusia. Pemerintah Rusia menyangkal hubungan dengan Grup Wagner.
Editor: Umaya Khusniah