Pemilu India: PM Narendra Modi, Sosok Kuat Menang Mutlak
NEW DELHI, iNews.id - Partai Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin Perdana Menteri India Narendra Modi meraih kemenangan mutlak dalam pemilihan umum di India, mengungguli pesaing terdekatnya Partai Kongres yang dipimpin oleh Rahul Gandhi.
Aliansi yang dipimpin BJP unggul dengan raihan lebih dari 300 kursi di parlemen, dan ini memastikan bahwa Modi akan kembali mendominasi parlemen dengan jumlah kursi total sebanyak 543. Aliansi yang dipimpin Partai Kongres hanya mendapat kurang dari 100 suara.
Lebih dari 600 juta orang memberikan suara dalam pemilu terbesar dunia yang berlangsung selama enam pekan.
Pada pemilu 2014, BJP mendapat 282 kursi dan bersama partai-partai anggota aliansinya kini mereka unggul dengan jumlah total 336 kursi.
Dilaporkan BBC, Kamis (23/5/2019), kebijakan Modi antara lain terkait keamanan nasional membuatnya menarik suara banyak.
"Tidak apa kalau pembangunannya sedikit namun Modi membuat negara aman," kata seorang pemilih di Kolkata, kepada BBC.
Anggapan bahwa Modi adalah "sosok kuat" merupakan daya tarik besar dalam pemilu ini.
Apa arti kemenangan kembali Modi bagi India dan dunia? Berikut beberapa hal penting terkait hal ini.
Tantangan ekonomi India
India diperkirakan akan mengambil alih posisi Inggris sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia. Dengan komposisi demografinya yang muda, diperkirakan akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi global.
Penanam modal internasional sangat optimistis pada ekonomi India, dan pada tahun lalu saja mengucurkan dana sebesar hampir 44 miliar dolar AS.
Keuntungan sudah terlihat dengan banyaknya pembangunan jalan, pembangunan pertanian, gas murah untuk orang miskin, pembangunan fasilitas MCK di pedesaan serta skema asuransi kesehatan, yang semuanya bisa menguntungkan bagi 500 juta keluarga.
Namun secara umum ekonomi India masih bermasalah dengan permintaan yang melambat, penurunan penghasilan dan buruknya angka pengangguran selama empat dekade.
India butuh menciptakan jutaan lapangan kerja tiap bulan untuk tetap mempertahankan laju ekonomi dan membuat orang muda tidak mengalami kekecewaan. Target ini gagal dicapai oleh pemerintahan sebelumnya dan jadi pekerjaan rumah pada periode kali ini.
Selagi India mengatasi masalah ini dan membangkitkan ekonominya, masalahnya adalah: apakah perlombaan untuk menciptakan lapangan kerja ini akan menimbulkan perang dagang dengan negara-negara mitra ekonomi mereka?
Bangkitnya nasionalisme
Hasrat untuk meraih kembali kejayaan yang hilang bergema pada munculnya pemimpin nasionalistik yang kuat di seluruh dunia.
Misalnya pada Donald Trump yang menyerukan, Make America Great Again, atau Putin dengan slogan yang mirip. Demikian pula dengan hasrat Xi Jinping dengan slogan 'Kebangkitan akbar rakyat China' atau Benjamin Netanyahu dengan slogan 'Agar berbagai bangsa diberi cahaya'.
Modi juga menggunakan tema serupa dalam retorika kampanye pemilunya yang menyerukan kembalinya kejayaan masa lalu. Dia menyerukan nostalgia pada Raja Rama, tokoh epik yang merupakan intisari dari ajaran agama Hindu di India.
"Modi menyerukan, 'Raja Rama adalah raja yang ideal dan pemerintahannya merupakan sistem yang sempurna. Pemerintahan Raja Rama dilahirkan oleh para pendiri bangsa dan pemerintahan BJP bekerja untuk mencapai itu'," kata Presiden BJP, Amit Shah.
Namun pemimpin partai berulang kali menekankan bahwa mereka tidak anti minoritas.
"Partai ini ditujukan bagi 1,3 miliar orang India dan tidak melakukan diskriminasi berdasar agama," kata juru bicara BJP, Nalin Kohli.
Kini BJP kembali berkuasa dan identitas nasionalis India akan kembali muncul.
November lalu, riset BBC juga memperlihatkan seruan untuk membentuk identitas nasional ini telah menghidupkan berita bohong atau hoaks. Jaringan berita sayap kanan menyebarkan berita bohong dengan sudut pandang nasionalistis melalui jaringan media sosial mereka.
Politik orang kuat dan kekuatan geopolitik
BJP menyombongkan 'dada bidang' Modi sebagai perumpamaan bagi karakternya yang macho, seraya menunjukkan serangan India terhadap kelompok militan Pakistan sebagai bukti akan hal itu.
Narasi ini memiliki daya tarik bagi massa yang meningkatkan popularitas Modi. Padahal sebelumnya popularitas Modi sempat turun pada pemilu negara bagian, tetapi sesudah serangan itu, ia naik lagi.
Modi terus mengobarkan nasionalisme yang kuat selama masa kampanye. Pendukung-pendukungnya bicara tentang masa lalunya yang sederhana dan mengkontraskan ini dengan latar belakang pesaingnya, pemimpin Partai Kongres Rahul Gandhi yang berasal dari dinasti politik besar Nehru-Gandhi.
"Semua ini sukses meyakinkan rakyat India bahwa dia seorang yang tulus, pekerja kerasa dan tegas."
Di bawah kepemimpinannya, India dua kali berhadapan dengan Pakistan dan sekali dengan China, di wilayah yang rawan dengan potensi konflik, di Kashmir dan di Laut China Selatan.
"Di Asia Tenggara, India dengan cepat muncul sebagai pengimpang bagi kekuatan China dan menjadi pagar bagi kekuatan Amerika Serikat yang sedang menurun," kata lembaga think tank Amerika, Council on Foreign Relations.
Banyak orang India yang melihat peningkatan peran mereka secara regional dihasilkan dari pengaruh kepemimpinan Modi.
Selagi Modi terus mendorong pengaruh India di masa jabatannya yang kedua, kita akan melihat peralihan-peralihan aliansi geopolitik di Asia Tenggara.
Meningkatnya populisme sayap kanan
Selama ini BJP menggabungkan antara politik sayap kanan dengan retorika dan tema populis. Presiden BJP Amit Shah menyebut imigran gelap sebagai 'rayap' dan berjanji untuk 'melempar mereka ke Teluk Bengal' sementara ia menawarkan kewarganegaraan pada pengungsi Hindu dan Buddha.
Menteri Pertama Uttar Pradesh yang berasal dari BJP, Yogi Adityanath mengatakan Partai Kongres terkena infeksi virus 'hijau' (mengacu pada warna hijau sebagai Islam). Dalam lima tahun pemerintahan BJP, hubungan Hindu-Muslim di India memburuk dan menimbulkan ketakutan di kalangan Muslim mengenai masa depan mereka di negara tersebut.
Wacana politik berbasis identitas ini mungkin berhasil sebagai strategi meraih pemilih yang mengalihkan mereka dari masalah ekonomi sesungguhnya, tetapi akan sulit untuk menarik kembali wacana itu.
Editor: Nathania Riris Michico