Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Mengenal Fineshield, Proteksi Jam Tangan Mewah dengan Teknologi Jerman
Advertisement . Scroll to see content

Penjaga Kamp Konsentrasi Nazi Berusia 93 Tahun Diadili, Hadapi 5.230 Tuntutan Pembunuhan

Jumat, 18 Oktober 2019 - 12:46:00 WIB
Penjaga Kamp Konsentrasi Nazi Berusia 93 Tahun Diadili, Hadapi 5.230 Tuntutan Pembunuhan
Kamp konsentrasi nazi. (FOTO: GETTY IMAGES/AFP/B. ADAMS)
Advertisement . Scroll to see content

BERLIN, iNews.id - "Saya tidak akan pernah lupa bahwa saya selalu merasa lapar, siang dan malam." Dora Roth dan ibunya adalah dua dari sekitar 120.000 orang yang dijebloskan secara brutal ke kamp konsentrasi Stutthof dekat Danzig, Polandia.

Setidaknya 65.000 orang meninggal di sana. Salah satu yang tewas adalah ibu Dora Roth. Dia mati kelaparan karena memberikan jatah rotinya kepada putrinya yang saat itu masih kecil.

Para tahanan di kamp Stutthof tidak hanya mati akibat kelaparan. Mereka juga meninggal karena kelelahan akibat kerja paksa, karena sakit, ditembak, atau dikirim ke kamar gas. Para tahanan ini dijaga oleh orang-orang di sebanyak 25 menara pengawas.

Dari atas menara, para penjaga dapat melihat dengan jelas aktivitas di kamp.

Para penjaga itu juga dapat melihat asap mengepul dari cerobong asap krematorium Stutthof. Mungkinkah para penjaga tidak memperhatikan asap itu? Atau apakah mereka juga memikul tanggung jawab parsial atas dukungan terhadap pembunuhan besar-besaran yang dilakukan rezim Nazi?

Menurut Deutsche Welle, Jumat (18/10/2019), usia Bruno D masih 17 tahun waktu itu. Bruno D.dikatakan secara teratur naik ke menara-menara pengawas untuk bertugas jaga di antara musim panas 1944 dan musim semi 1945.

Jaksa penuntut negara bagian mengatakan bahwa sebagai penembak jitu SS dia tidak hanya menjaga, tetapi juga membunuh tahanan di kamp.

Kini, 74 tahun setelah kamp dibebaskan, Bruno D akan diadili di Pengadilan Negeri Hamburg. Dan dia menghadapi 5.230 tuduhan pembunuhan.

Karena pada saat kejadian Bruno D masih di bawah umur, sebuah pengadilan dengan juri untuk remaja kini akan berusaha menentukan apakah dia tidak hanya mencegah para tahanan melarikan diri dari kamp, tetapi juga terlibat dalam menghentikan pemberontakan dan menggagalkan pembebasan tahanan.

Jaksa penuntut negara bagian yakin bahwa dia dengan sengaja membantu pembunuhan yang mengerikan terhadap para tahanan yang sebagian besar adalah kaum Yahudi. Hal itu membuatnya menjadi "roda penggerak dalam mesin pembunuh" dan orang yang juga melakukan eksekusi.

Pertanyaan yang menentukan adalah apakah laki-laki yang kini berusia 93 tahun ini tahu tentang pembunuhan yang dilakukan di kamp. Namun, Bruno D mengklaim tidak tahu.

Bruno D tidak menyangkal bahwa dia adalah salah seorang penjaga di kamp konsentrasi Stutthof. Namun dia menyanggah dirinya bersalah atas tuduhan yang dia hadapi. Dia mengatakan bahwa dia sama sekali bukan alat untuk membunuh.

Kasus ini bergulir cukup alot. Pertama, pengadilan harus menentukan apakah Bruno D cukup sehat untuk diadili. Sejumlah ahli menentukan bahwa Bruno D tidak mampu berpartisipasi secara keseluruhan.

Dengan demikian, masih menjadi pertanyaan apakah kesehatannya akan tetap stabil dan karenanya apakah putusan dapat dicapai.

Tidak seperti pada dekade-dekade sebelumnya, kini jaksa penuntut di Jerman tidak perlu membuktikan keterlibatan langsung seseorang dalam pembunuhan individu untuk dapat dihukum atas kejahatan Nazi. Kini tuduhan juga dapat diajukan terhadap individu karena menjadi kaki tangan untuk membunuh.

Persidangan Bruno D hanyalah satu dari banyak persidangan lainnya selama 10 tahun terakhir di mana penjaga, birokrat, dan lainnya yang bekerja dengan Nazi harus bertanggung jawab atas tindakan mereka di masa lalu.

Pada 2011, John Demjanjuk, mantan penjaga di kamp kematian Sobibor, dijatuhi hukuman lima tahun penjara. Penjaga lain dari kamp konsentrasi Stutthof dituduh membantu pembunuhan pada 2018, tetapi persidangan ditunda setelah terdakwa berusia 95 tahun itu dianggap tidak layak untuk diadili.

Thomas Will, wakil direktur Kantor Pusat Administrasi Peradilan Negara untuk Investigasi Kejahatan Nazi, mengatakan saat ini tengah berlangsung sekitar 23 kasus pengadilan terhadap personel kamp konsentrasi.

Bagi para korban yang berhasil selamat, tidak hanya penting untuk membawa orang-orang itu ke pengadilan, tetapi juga untuk menghidupkan kembali ingatan atas apa yang terjadi pada rezim Nazi.

Setelah kampnya dibebaskan, Dora Roth mengabdikan hidupnya untuk menjelaskan apa yang terjadi di sana. Sejak saat itu, dia sudah berbicara kepada banyak orang, terutama anak-anak, tentang pengalaman mengerikan yang terjadi di kamp Stutthof.

Editor: Nathania Riris Michico

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut