Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Abaikan Trump, Para Pejabat Israel Serukan Pendudukan Gaza secara Permanen
Advertisement . Scroll to see content

Penuturan Aktivis Indonesia di Gaza soal Sepak Terjang Razan Al Najjar

Rabu, 06 Juni 2018 - 20:56:00 WIB
Penuturan Aktivis Indonesia di Gaza soal Sepak Terjang Razan Al Najjar
(Foto: Getty Image)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Rasa kagum atas pengorbanan Razan Al Najjer, relawan medis Palestina di Gaza yang meninggal ditembus peluru sniper Israel disampaikan aktivis kemanusiaan Indonesia, Muhammad Husein.

Husein berkesempatan bertakziyah ke rumah almarhumah di Desa Khujaah, Khan Yunis, pada 3 Juni lalu, dan berbincang dengan sang ayah, Ashraf AL Najjer.

Meskipun tak dibayar, namun Razan selalu terdepan dalam membantu para demonstran korban penembakan tentara Israel di tenda-tenda penampungan darurat di Khan Yunis. Seperti diketahui, sejak demonstrasi 'Great March to Return' yakni simbolisasi pulang ke tanah yang dicaplok Israel pada 30 Maret 2018, lebih dari 12.000 orang mengalami luka dengan korban tewas 125 orang.

"Sejak direkrut oleh yayasan (Organisasi Pertolongan Medis Palestina) itu dia ditempatkan di titik perawatan lapangan di Khujaah, perbatasan timur di Khan Yunis. Itu titik yang menjadi tempat perawatan utama para korban, baik korban jiwa maupun korban luka yang tertembak oleh Israel," kata Husein di akun media sosialnya.

Hebatnya, kata Husein, Razan datang setiap hari sejak 30 Maret sampai beliau bertugas untuk terakhir kalinya, Jumat (1/6).

"Hampir setiap hari beliau ada di lokasi, penuh risiko, berbahaya, seorang wanita. Beliau datang tuh tidak digaji, datang dari pukul 07.00 sampai 22.00. Coba bayangkan, siapa yang kuat, dia datang ke tenda-tenda perawatan," tutur relawan yang sudah berada di Gaza sejak 2011 itu.

Husein melanjutkan, menurut informasi dari teman-teman almarhumah, begitu besar keinginan Razan untuk menolong sampai-sampai dia membeli peralatan medis sendiri. Padahal ekonomi keluarganya sangat pas-pasan.

"Dia memaksakan diri membeli kebutuhan medis sendiri, seperti kapas, alkohol untuk mengobati luka. Kebutuhan medis yang digunakan untuk operasi emergency itu dia beli sendiri," ujarnya.

Lebih lanjut Husein menceritakan, berdasarkan kesaksian dari teman almarhumah yang berada di lokasi penembakan, Razan menuju garis terdepan pagar pembatas karena saat itu ada beberapa warga sipil yang tertembak.

"Darah mengalir, bergelimang darah, sementara medis dilarang untuk mendekat oleh militer. Namun Razan ini nekat, dia bergerak maju lalu diingatkan oleh temannya, 'Razan jangan medekat, mereka tentara israel sedang membabi buta," tutur Husein, menceritakan kembali pernyataan rekan almarhumah.

Namun Razan menjawab, dia tidak akan membiarkan orang-orang yang terluka diabaikan begitu saja.

"Akhirnya Razan dengan berani sambil mengangkat tangan terus berjalan ke arah korban. Di depannya ada sekitar lima mobil militer Israel yang stand by di dekat korban luka itu. Setelah itu sniper turun dari mobil mengarahkan moncong senjatannya ke arah tim medis itu lalu menembaki. Awalnya mereka menembaki dengan gas air mata lalu pakai peluru tajam," kata Husein.

Razan bergeming, terus berjalan lalu sniper Israel melepaskan tembakan tepat ke dada. Beberapa teman relawan medisnya juga terluka, ada yang tertembak di bagian kaki.

"Razan sempat mendapat perawatan medis namun dengan keterbatasan yang ada dan dengan luka yang sangat parah, tidak tak tertolong. Akhirnya Allah SWT memberi karunia terindah untuk Razan berupa kematian di hari Jumat, di bulan Ramadan, dalam keadaan berpuasa. Dia meninggal di tanah yang diberkahi," tutur Husein.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut