Perang 2 Hari Tewaskan 32 Warga Gaza, Jihad Islam dan Israel Sepakati Gencatan Senjata
GAZA, iNews.id - Jihad Islam akhirnya menyepakati gencatan senjata setelah 2 hari saling serang dengan militer Israel. Sejak Kamis (14/11/2019) serangan dari dua pihak tak terjadi lagi.
Sumber di pemetintahan Mesir dan tokoh senior Jihad Islam memastikan gencatan senjata sudah berlaku efektif.
"Perjanjian gencatan senjata terwujud sebagai hasil dari upaya Mesir," kata seorang pejabat Mesir, kepada AFP, seraya memastikan semua faksi Palestina, termasuk Jihad Islam, ikut menyepakati.
Isi perjanjian di antaranya faksi-faksi perlawanan Palestina harus memastikan terciptanya ketenangan di Gaza serta melakukan demonstrasi secara damai. Sementara Israel harus menghentikan serangan dan tidak menggunakan senjata selama demonstrasi warga Palestina.
Perjanjian yang berlaku efektif pukul 05.30 waktu setempat itu disepakati setelah korban tewas akibat serangan udara Israel di Jalur Gaza bertambah menjadi 32 orang. Korban terbaru merupakan satu keluarga terdiri dari enam orang di Gaza.
"Enam anggota keluarga Abu Malhous, termasuk tiga anak-anak dan dua perempuan, tewas dalam serangan Israel di rumah mereka di Deir Al Balah, Gaza bagian selatan," demikian pernyataan kementerian kesehatan Palestina.
Sementara itu Jihad Islam menembakkan sekitar 360 roket ke Israel selama 2 hari, sebagian besar diklaim dirontokkan oleh sistem pertahanan udara Iron Dome. Israel memastikan tidak ada korban jiwa akibat serangan roket dari Gaza.
Petugas medis Israel mengatakan 48 orang mengalami luka ringan. Rekaman video yang beredar di internet menunjukkan roket nyaris mengenai mobil yang sedang melaju di jalan raya serta rumah yang atapnya hancur dihantam roket.
Sirene serangan udara meraung-raung di beberapa kota Israel termasuk Tel Aviv. Suara dentuman terdengar disertai bola api di udara saat rudal iron dome mencegat roket-roket yang masuk Israel.
PBB dan Mesir berperan penting dalam menengahi gencatan senjata termasuk konflik-konflik antara penjuang Gaza dengan Israel sebelumnya.
Israel Menyerang Jihad Islam, bukan Hamas
Sementara itu Israel sengaja menyerang basis atau kepentingan Jihad Islam, bukan Hamas selaku penguasa pemerintahah di Gaza. Ini merupakan upaya Israel untuk menghindari meluasnya konflik. Jihad Islam dan Hamas merupakan sebagian faksi perlawanan Palestina yang berbasis di Gaza.
"Untuk pertama kalinya di era ini, Israel membedakan antara Hamas dan Jihad Islam," kata pengamat Ben Caspit, di surat kabar Israel, Maariv.
"Dengan sikap ini, Israel menyimpang dari sikap kerasnya bahwa Hamas, sebagai pemegang kekuasaan di Gaza, harus membayar harga pantas untuk setiap tindakan yang dilakukan oleh siapa pun di Jalur Gaza. Sekarang bukan lagi menjadi masalah," ujarnya, menambahkan.
Pengamat dari Lembaga Penelitian Perdamaian Harry Truman di Yerusalem, Ronni Shaked, setuju bahwa langkah ini merupakan yang pertama bagi Israel.
"Sekarang pertarungan itu hanya melawan Jihad Islam, bukan Hamas," katanya.
Sementara itu Hamas menegaskan akan tetap berjuang bersama Jihad Islam.
"Selama pesawat-pesawat tempur Israel mengebom Jalur Gaza, perlawanan akan membalas agresi Israel dan membela rakyat Palestina," demikian isi pernyataan bersama faksi-faksi perlawanan Palestina di Gaza.
Editor: Anton Suhartono